Bank Permata Cetak Kinerja Positif hingga Kuartal III 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencatatkan kinerja positif hingga kuartal III 2021. Direktur Keuangan Bank Permata, Lea Kusumawijaya mengungkapkan, total pinjaman atau kredit bruto tumbuh 20,7 persen yoy menjadi Rp 124,2 triliun.

"Hal ini sebenarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya, tentu saja dampak integrasi Bangkok Bank di Indonesia, yang kami selesaikan pada Desember 2020, tetapi juga disumbang oleh pertumbuhan organik portofolio pinjaman kami,” ujarnya dalam paparan kinerja Bank Permata, Rabu (10/11/2021).

Lea merinci, portofolio pinjaman tersebut 45 persen merupakan wholesale banking, ini sebenarnya sudah termasuk dampak integrasi dengan Bank Bangkok, dan juga dari retail yang sebagian besar berasal dari KPR yang justru tumbuh sebesar 23 persen.

Sejalan dengan itu, total aset perseroan hingga September 2021 tumbuh sebesar 31,2 persen yoy atau Rp 218,9 triliun. Angka ini disokong oleh pertumbuhan yang kuat dari simpanan nasabah.

Laba usaha sebelum provisi sebesar Rp 3,5 triliun untuk periode sembilan bulan tahun ini, atau naik 28,2 persen yoy. Berasal dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang kuat.

"Ini sebenarnya juga disumbang oleh segmen retail banking dan wholesale banking,” kata Lea.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kinerja Laba

Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith
Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Untuk laba setelah pajak Bank Permata hingga September 2021 sebesar Rp 831,4 miliar. Naik hampir dua kali lipat atau 93,5 persen yoy.

Margin bunga bersih per September berada di posisi 4,4 persen, relatif sama dari posisi per September tahun lalu. Sementara dari sisi cost to income tercatat 53,6 erseh pada September 2021, turun 618 bps yoy.

"Industri perbankan secara keseluruhan telah mengalami peningkatan terbaik dalam risiko kredit mereka. Demikian pula, kami juga mengalami hal yang sama, rasio NPL gross kami untuk September adalah 3,3 persen dan NPL net dipertahankan di 0,9 persen,” beber Lea.

Dari sisi rasio cakupan NPL atau NPL coverage ratio Bank Permata konsisten di kisaran 200 persen sepanjang tahun. Hingga September 2021, rasio cakupan NPL selalu mempertahankan sekitar dua ratus persen sepanjang tahun, menjadi 217 persen dari 118 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Total pinjaman yang direstrukturisasi akibat covid-19 hingga September 2021 adalah 8 persen atau senilai Rp 10,4 triliun. Relatif lebih rendah dibandingkan industri. Restrukturisasi kredit ini terutama wholesale banking 61,9 persen, ritel 26 persen, dan UKM 12,1 persen.

Dana Pihak Ketiga

(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)
(Foto: Ilustrasi laporan keuangan. Dok Unsplash/Lukas Blazek)

Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 136,5 triliun, naik 22,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Terdiri dari deposito yang naik 17,8 persen yoy menjadi Rp 76,8 triliun, dan CASA yang naik 28 persen yoy atau menjadi Rp 86,7 triliun hingga September 2021.

"Ini sejalan dengan pendekatan manajemen likuiditas kami. Dimana kami ingin mengembangkan atau memfokuskan simpanan nasabah kami pada sumber dana yang efisien dan berkelanjutan, yaitu giro dan tabungan," ujar Lea.

Rasio CASA per September 2021 sebesar 53 persen, naik dari posisi akhir Desember 2020 di posisi 51 persen. Sementara loan deposit ratio (LDR) per september 2021 di 74 persen, turun dari posisi akhir Desember 2020 sebesar 79 persen. Hingga September 2021, CAR Bank Permata tercatat 34 persen, naik 1.245 bps yoy, dan CET-1 25,9 persen atau naik 535 bps yoy.

"Hal ini sebenarnya disumbangkan juga oleh transfer modal pada saat integrasi Bangkok Bank Indonesia. Dan dengan modal yang kuat ini, tentunya memberikan kita dasar yang kuat untuk mengembangkan bisnis lebih cepat secara organik dan organik,” ujar Lea.

Hingga September 2021, total modal Bank Permata mencapai Rp 44,4 triliun, naik 90,7 persen yoy, dengan modal tier-2 mencapai Rp 43,2 triliun atau tumbuh 94,7 persen yoy.

"Jadi intinya pada dasarnya terlepas dari dampak pandemi yang berkepanjangan. Kami masih dapat membukukan kinerja finansial yang kuat untuk kuarta III 2021. Kami berharap dapat mengembangkan bisnis lebih lanjut di tahun-tahun berikutnya," pungkas Lea.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel