Bank Sampoerna salurkan 40 persen kredit ke UMKM

Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) Henky Suryaputra mengatakan pihaknya telah menyalurkan 40 persen dari total kredit di kuartal I 2022 ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurutnya, perseroan mencatat pertumbuhan kredit UMKM secara tahunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan total kredit sampai dengan kuartal pertama tahun ini.

"Lebih dari 40 persen kredit Bank Sampoerna pada kuartal pertama atau sekitar Rp3,5 triliun disalurkan untuk mendukung pertumbuhan UMKM,” kata Henky Saputra di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan bahwa sektor UMKM memiliki kreativitas dan agilitas yang tinggi untuk memanfaatkan momentum kebangkitan kembali aktivitas ekonomi yang sempat melemah karena pandemi COVID-19. Total nilai outstanding kredit skala UMKM perbankan nasional sampai dengan April 2022 mencapai Rp1.195,4 triliun atau tumbuh 16,9 persen secara tahunan.

Berdasarkan data analisis uang beredar Bank Indonesia, pembiayaan untuk skala mikro melesat hingga 105,4 persen atau menjadi yang paling tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Ia mengatakan pemulihan kinerja industri perbankan tidak terlepas dari dukungan pemerintah dan regulator yang menciptakan ketentuan dan program untuk mendorong aktivitas ekonomi.

Tahun ini Bank Sampoerna pun akan menitikberatkan pola kemitraan dan pengembangan layanan berbasis digital untuk menopang kinerja bisnis.

Sebagai gambaran, sampai dengan kuartal I 2022, bank itu telah memfasilitasi hampir 10 juta transaksi dengan kontribusi pendapatan sebesar Rp12 miliar.

“Jumlah transaksi meningkat hampir dua kali lipat. Bagi kami, transaksi digital merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi. Transaksi digital sebagai bagian dari layanan untuk nasabah dan bukan sekadar sumber pendapatan,” katanya.

Hingga kuartal I 2022, Bank Sampoerna membukukan laba bersih sebesar Rp12,9 miliar atau tumbuh 17,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2021 yakni Rp11 miliar.

Sementara itu, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mencermati potensi perubahan karakteristik UMKM, khususnya skala usaha mikro ke depan.

Menurutnya, jika terlibat dalam ekosistem digital, pelaku usaha mikro dapat berkembang sehingga mampu berkontribusi lebih banyak bagi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan pelibatan jumlah tenaga kerja.

Dari riset yang dilakukan oleh Core Indonesia, sebanyak 85 persen usaha nano dan mikro yang sebelumnya tidak memiliki akun bank mulai mengenal produk perbankan setelah bergabung dengan digital payment.

Dia menuturkan bahwa karakteristik usaha mikro dan kecil saat ini, menyebabkan pelaku usaha kesulitan mendapatkan akses ke pembiayaan formal sehingga sulit berkembang.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menilai bahwa penyaluran kredit UMKM akan menjadi segmen yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada tahun ini.

Salah satu yang dapat mendorong penetrasi kredit ke UMKM, katanya melalui kesiapan infrastruktur digital karena sektor UMKM saat ini sudah menuju ke arah digitalisasi.

Oleh sebab itu, bank perlu menyiapkan proses kredit secara digital untuk memperluas cakupan pasar UMKM.
Baca juga: Bank Sampoerna bukukan laba bersih Rp13 miliar pada triwulan I-2022
Baca juga: BI catat kredit perbankan tumbuh 9,1 persen pada April
Baca juga: Sekitar 65,6 persen portofolio kredit BRI mengacu pada prinsip ESG

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel