Bank Syariah Punya Daya Tahan Terhadap Krisis

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bank syariah masih memiliki peluang untuk tumbuh di masa pandemi Covid-19 ini. Terbukti dari daya tahan industri keuangan syariah yang masih bisa tumbuh dua digit di 2020.

"Bank syariah ini masih punya peluang tumbuh dan ini cukup memiliki daya tahan terhadap krisis," kata Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Hery Gunardi dalam Webinar Peluang dan Tantangan Bisnis Perbankan Syariah Pasca Merger Bank Syariah BUMN, Jakarta, Rabu, (10/2/2021).

Pertumbuhan aset perbankan syariah tumbuh 13,36 persen secara tahunan. Angka ini lebih baik dari bank konvensional yang hanya tumbuh 7,18 persen.

Dari sisi pembiayaan, bank syariah tumbuh 9,16 persen. Sedangkan bank konvensional mengalami kontraksi hingga -2,02 persen. Begitu juga pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Meski keduanya tumbuh positif, namun bank syariah lebih tinggi yaitu 13,52 persen dibandingkan bank konvensional yang tumbuh 11,24 persen.

"Ini adalah kondisi saat ini dan kita punya secercah harapan," kata Hery.

Pertumbuhan keuangan syariah pun mendapat dukungan dari pemerintah. Hery mengatakan komitmen tersebut terlihat dari keseriusan presiden, wakil presiden hingga menteri BUMN yang melakukan penggabungan tiga bank syariah milik negara.

"Penggabungan ini tujuannya untuk jadi bank syariah terbesar dan punya daya saing terbesar, dan akhirnya bisa memberikan layanan optimal baik dari SME dan mikro yang didukung digital channel yang baik," kata dia.

Saat ini Bank Syariah Indonesia memiliki kinerja keuangan yang solid. Tercermin dari aset yang mencapai Rp 239,73 triliun dan DPK sebesar RP 209,9 triliun. Lalu Pembiayaan sebesar Rp 156,2 triliun, equity sebesar Rp 21,74 triliun dan laba bersih per Desember 2020 mencapai Rp 2,19 triliun.

Hingga 9 Februari 2021, harga saham BSI sebesar Rp 2.830 dan IPO sebesar Rp 510. Sementara market cap dalam periode yang sama mencapai Rp 116,12 triliun dan IPO sebesar Rp 4,96 triliun.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

OJK Ungkap Strategi agar Bank Syariah Indonesia Tumbuh Besar

Nasabah menunggu di kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selasa (2/2/2021). Dirut BSI Hery Gunardi menjelaskan bahwa integrasi tiga bank syariah BUMN yakni Bank BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri telah dilaksanakan sejak Maret 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Nasabah menunggu di kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selasa (2/2/2021). Dirut BSI Hery Gunardi menjelaskan bahwa integrasi tiga bank syariah BUMN yakni Bank BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri telah dilaksanakan sejak Maret 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan empat strategi yang harus dipenuhi Bank Syariah Indonesia (BSI) agar menjadi raksasa di sektor keuangan. Jika syarat ini bisa dilakukan, pangsa pasar perbankan syariah disebut akan mendominasi.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjabarkan, empat strategi tersebut antara lain, produk yang bervariasi, harga yang murah, kualitas produk yang bagus dan kemudahan akses bagi masyarakat. Wimboh mengatakan, strategi ini untuk menjawab sejumlah tantangan yang sedang dihadapi bank syariah.

Sebagai bank hasil penggabungan, pada posisi Desember Bank Syariah Indonesia dengan kode emiten BRIS itu, memiliki total aset Rp 240 triliun, pembiayaan Rp 157 triliun, dana pihak ketiga (DPK) Rp 210 triliun, dan modal inti Rp 22,6 triliun.

Wimboh menambahkan, lahirnya Bank Syariah Indonesia merupakan salah satu perwujudan Master Plan Sektor Jasa Keuangan Indonesia (MPSJKI) 2021-2025 dalam hal pengembangan lembaga keuangan dan ekosistem syariah di Indonesia.

"Ini baru satu step, kelahiran sebuah bayi baru. Kita harapkan ini menjadi raksasa besar yang diidamkan masyarakat sudah cukup lama,” kata dia dalam webinar Perbankan Syariah, Rabu (10/2/2021).

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian BUMN memastikan saham BRIS pasca merger tiga bank syariah milik negara segera memenuhi ketentuan saham beredar minimal 7,5 persen di Bursa Efek Indonesia (BEI). Adapun saat ini saham BRIS di publik hanya 4,4 persen.

Dalam rangka memenuhi ketentuan tersebut, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan pemerintah Indonesia akan tetap mendominasi kepemilikan saham BRIS di atas 51 persen.

"Kita akan segera memenuhi ketentuan free float minimal 7,5 persen. Poinnya, pemerintah Indonesia akan tetap mayoritas di atas 51 persen, mekanisme nya bisa banyak,” ujar Erick seperti dikutip, Rabu, 10 Februari 2021.

Erick berharap, hadirnya BSI tidak hanya sekadar perayaan tiga bank yang digabungkan. Lebih dari itu, bisnis serta komitmennya dalam berusaha harus dikedepankan guna memajukan industri syariah. Selain itu, BSI juga diharapkan dapat menjaring investor asing untuk BRIS melalui Sovereign Wealth Fund milik Indonesia, yakni Indonesia Investment Authority (INA).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: