Bantah Investasi Indonesia Kalah dari Vietnam dan Kamboja, Luhut Beri Bukti

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Indonesia disebut kalah masif dari Kamboja dan Vietnam di tahun-tahun sebelumnya dalam menangkap investasi asing. Namun kondisi saat ini sudah berbalik.

Saat ini investasi asing yang masuk ke Indonesia lebih besar dari dua negara di Asia Tenggara itu. "Saya kira enggak juga kalau sekarang. Kalau Anda bilang masif, enggak. Kalau 2 tahun lalu iya bisa jadi," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Luhut menyebut investasi yang masuk ke Vietnam sebesar USD 9 miliar atau sekitar Rp 126 triliun. Sedangkan investasi yang masuk ke Kamboja sebesar USD 3,7 miliar atau setara Rp 51,8 triliun.

Sementara itu, investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp 412 triliun. "Kalau kita, Rp 412 triliun, lebih banyak kita," jelas dia.

Sehingga, Luhut menolak bila investasi yang masuk ke Indonesia tidak semasif yang diterima Vietnam. Apalagi, di Halmahera Tengah, Maluku Utara akan ada investasi yang akan mengelola lahan 12 ribu hektare.

Dari investasi tersebut akan dibangun dua kilang yang berpotensi menyerap 100 ribu tenaga kerja. Kilang-kilang itu akan menghasilkan produk turunan yang bisa menghasilkan produk baru lagi.

"Ada 2 smelter, ada copper dan nikel ore yang ada turunannya. Nanti ada yang kawin di bawahnya. Ini bisa bikin macam-macam dan itu kita akan punya dari semua," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Menko Luhut Yakin Investasi di Indonesia Tembus Rp 900 Triliun di 2021

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan optimis, realisasi investasi di Indonesia pada tahun ini mencapai Rp 900 triliun. Alasannya, sampai akhir 2020, realisasi investasi sudah diangka Rp 826 triliun. Sehingga, target investasi tahun ini sebesar Rp 74 triliun.

"Jadi Rp 900 triliun itu tidak sulit, untuk menambah ini dibutuhkan sekitar Rp 70 triliun," kata Luhut dalam Dialog Special: Tantangan dan Optimisme Investasi 2021, Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Target investasi ini pun dinilai realistis meski perekonomian Indonesia mengalami perlambatan. Hilirisasi yang dilakukan pemerintah sejak 6 tahun lalu disebut Luhut akan memberikan dampak yang besar bagi Indonesia saat ini.

Buktinya, kata dia, Indonesia sedang melakukan finalisasi perjanjian dengan beberapa perusahaan asing. Termasuk dengan Freeport yang akan membuat kilang yang sebagian besar akan menghasilkan asam sulfat.

Asam sulfat tersebut akan dimanfaatkan untuk membuat lithium baterai sangat penting dalam industri baterai kendaraan listrik yang sedang direncanakan pemerintah. Selain itu, ada juga kilang nikel ore yang sudah mulai berjalan. Sehingga diperkirakan tahun 2023 mendatang Indonesia akan memproduksi lithium batre NR 811.

"Maka tahun 2023 kita akan bisa produksi lithium batre seri NR 811, itu yang terbaru teknologinya," ungkap Luhut.

Dari berbagai proyek tersebut, Contemporary Amperex Technology (CATL), perusahaan asal China telah menandatangani investasi senilai USD 10 miliar. Selain itu, perusahaan steel dari China Tsingshan juga akan menandatangani kontrak senilai USD 2,8 miliar untuk pembangunan kilang.

"CATL ini sudah signing 10 miliar dolar dan juga WAYO dengan Tsingsang dan Freeport akan sign kontrak USD 2,8 miliar untuk smelter," kata dia.

Perusahaan tersebut akan melahirkan pabrik turunan seperti pipa tembaga, kawat tembaga yang bisa mendatangkan investasi lebih dari USD 10 miliar. Diperkirakan investasinya mencapai USD 30 miliar. "Itu saja sudah dekat kan 20-30 miliar dolar," sambungnya.

Sehingga untuk mencapai target Rp 900 triliun di tahun 2021, Luhut optimis bisa mencapai target. Targetnya pun masih dinilai realistis dan tidak terlalu sulit.

"Sekarang saja sudah Rp 826 triliun ya, jadi ini enggak sulit untuk menambah Rp 70 triliun ini. Menurut kami ini realistis," pungkasnya.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com