Bantah Media Korsel, TNI AL: KRI Nanggala Aktif Beroperasi Tiga Tahun Terakhir

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) meluruskan pemberitaan dari media di Korea Selatan yang menyebut bahwa KRI Nanggala 402 tidak pernah latihan selama lebih kurang 3 tahun.

"Berkaitan dengan isi berita tersebut tidak sesuai dengan fakta kenyataan," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono sat dihubungi, Selasa (27/4/2021).

Julius menyatakan, KRI Nanggala 402 selama 3 tahun terakhir termasuk kapal perang yang aktif melaksankan Latihan dan operasi.

Dia juga merinci, selama kurun 2018 sampai dengan saat ini tercatat sudah melaksankan sejumlah latihan dan operasi.

Julius merinci pertama, latihan Operasi Komodo Jaya 18, kedua dukungan Latihan Passusla, ketiga Latihan Armada Jaya 19, keempat Latihan Armada 20, dan kelima dukungan Peperangan Laut khusus.

"KRI Nanggala 402 juga melajukan dukungan Latopslagab 20 dan operasi Komodo Jaya serta Latihan rutin secara internal yang dilaksankan seminggu 2 kali," tegas Julius.

"Sehingga apa yang diberitakan media Korea Selatan tersebut diatas tidak benar," dia menandasi.

Melebihi Kapasitas

6 Foto MV Swift Rescue saat Pencarian KRI Nanggala 402, Berhasil Deteksi di Kedalaman 838 Meter (sumber: Instragam/ng_eng_hen)
6 Foto MV Swift Rescue saat Pencarian KRI Nanggala 402, Berhasil Deteksi di Kedalaman 838 Meter (sumber: Instragam/ng_eng_hen)

Sebelumnya, salah satu media asing asal Korea Selatan yakni Hankook Ilbo membeberkan sejumlah fakta terkait penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402. Dalam salah satu artikelnya, media asing tersebut meragukan bahwa kapal selam Angkatan Laut Indonesia buatan Jerman yang telah berusia tua, dirawat dengan baik dan dimobilisasi untuk pelatihan peluncuran torpedo.

"Bahkan kapal selam tersebut diketahui tidak pernah menjalani pelatihan kapal selam selama tiga tahun," tambah artikel tersebut.

Di dalamnya juga tertulis bahwa peluang kelangsungan hidup para penghuninya, yakni yang dimaksud adalah awak kapal, sangat rendah.

Artikel tersebut melanjutkan bahwa pelatihan yang dilakukan pada hari tenggelamnya kapal tersebut, merupakan pelatihan simulasi untuk memeriksa fungsi sebelum peluncuran torpedo keesokan harinya.

53 orang yang berada dalam kapal tersebut, disebutkan juga melebihi dari kapasitas sebenarnya yang hanya mampu menampung 34 orang.

Seorang ahli kapal selam mengatakan, "Ada kemungkinan sejumlah besar air laut masuk saat membuka dan menutup pipa torpedo dalam proses pelatihan yang dilakukan sebelum peluncuran, atau karena kapal selam itu sangat tua, pipa sistem air laut bisa tidak tahan tekanan air."

KRI Nanggala-402 merupakan sebuah kapal selam diesel dengan bobot 1.400 ton buatan Jerman pada tahun 1980, tepatnya 41 tahun yang lalu. Biasanya, kapal selam hanya bertahan selama kurang lebih 25 tahun.

"Pemeliharaan kapal selam harus dilakukan setiap 6 tahun sekali hingga masa layannya, dan setelah itu lazim dilakukan pemendekan jangka waktu, yang artinya pemeliharaan kapal selam tersebut sudah tidak dilakukan selama 9 tahun," tulis artikel di media Hankook Ilbo.

Ditambahkan lagi, seorang sumber militer setempat yang mengatakan bahwa kapal itu sudah tidak pernah beroperasi atau menyelam sejak tahun 2018.

Media Hankook Ilbo juga menulis bahwa beberapa pihak percaya bahwa niat politik didukung oleh pelatihan non-reguler ini.

Pasalnya, belum jelas mengapa pelatihan meluncurkan torpedo dengan kapal selam Jerman lama belum masuk, dengan torpedo memasuki kapal selam dari Korea Selatan yang baru.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: