Bantahan BIN Disebut-sebut Beri Informasi Intelijen ke Pengacara Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Kamaruddin Simanjuntak, pengacara keluarga Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat kerap membeberkan fakta-fakta terkait Ferdy Sambo. Ia sering menyebut data didapat dari informasi intelijen.

Praktis, mata mengarah ke Badan Intelijen Negara (BIN) sebagai pemegang rahasia negara nomor wahid. Namun, hal itu dibantah keras.

Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan H Purwanto menegaskan BIN hanya melaporkan informasi intelijen ditujukan kepada single client, yaitu Presiden Republik Indonesia.

"Sehingga, tidak benar adanya berita yang menyatakan bahwa BIN memberikan info kepada Komarudin sebagaimana dilansir di persidangan oleh pengacara Brigadir J, Komarudin Simanjuntak," kata Wawan saat dikonfirmasi wartawan pada Sabtu (5/11).

Ia menegaskan BIN yang dikepalai oleh Jenderal (Purn) Budi Gunawan merupakan lembaga intelijen negara, bukan untuk kepentingan yang lain. Sehingga, Wawan menegaskan BIN sama sekali tidak ikut campur dalam kasus Ferdy Sambo.

"BIN tidak intervensi dalam masalah judikatif. Apa yang terjadi di persidangan adalah mutlak wilayah judikatif. Itu menjadi kewenangan hakim untuk memutus, jaksa untuk menuntut dan pengacara untuk membela client-nya. BIN sama sekali tidak ikut campur," tegasnya.

Namun, Wawan belum mengetahui apakah BIN akan mengambil upaya hukum atas keterangan tidak benar yang disampaikan Kamaruddin Simanjuntak saat jadi saksi di persidangan. "Kita lihat saja nanti. Tidak benar berita tersebut," ungkapnya.

Diketahui, Kamaruddin Simanjuntak sempat menyebut dapat informasi dari BIN, Polri maupun TNI saat memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana terhadap Yosua dengan terdakwa Sambo di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Satu hal yang paling menjengkelkan waktu itu, saya membawa bukti dalam handphone, hasil investigasi saya dari para intelijen baik dari BIN, Polri maupun tentara-tentara yang mitra saya," kata Kamaruddin.

Karena, Kamaruddin mengaku sudah bergaul dengan intelijen sejak mahasiswa. Sebab, Kamaruddin waktu mahasiswa pernah membela 10 orang intelijen yang disersi, dipecat secara tidak hormat. "Tapi saya bela, kembali lagi mereka ke intelijen," ujarnya.

Ketika itu, kata Kamaruddin, tidak ada penyidik polisi yang berani menerima bukti dar ponselnya. Caranya, Kamaruddin harus pindah dulu dari handphone ke laptop yang tidak tersambung internet lalu transfer ke USB atau flashdisk dan pindah lagi ke laptop penyidik.

"Saya jadi heran kenapa mereka takut pada internet. Ternyata saya dapat informasi, bahwa ada alat-alat daripada kepolisian diduga sangat canggih yang memantau pergerakan ini semua, termasuk memantau pergerakan saya," katanya.

Sumber: Liputan6.com [rhm]