Bantahan Lengkap Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Atas Kesaksian Mantan Ajudan

Merdeka.com - Merdeka.com - Terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi turut memberikan bantahan atas keterangan saksi yang telah disampaikan dalam persidangan perkara dugaan pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Dimana pertama Sambo turut meluruskan atas keterangan mantan Ajudan Daden Miftahul Haq, kalau dia tidak mengetahui soal kesaksian Daden yang sempat mengambil kue dan tumpeng bersama Brigadir J jelang hari perayaan ulang tahun pernikahaan.

"Ada beberapa hal yg mau kami sampaikan soal keterangan saksi. Yang pertama adalah keterangan Daden bahwa tanggal 6 atau 7 malam harinya kami anter anak kami ke sekolah. Malamnya, sebelum ulang tahun. Kemudian itu adalah acara surprise. saya tidak tahu dengan Yosua," kata Sambo saat sidang di PN Jakarta Selatan, Selasa (8/11).

Bantahan selanjutnya, Sambo mengatakan bahwa Putri Candrawathi tidak memiliki ajudan. Adapun, kata dia, ajudan yang bertugas hanya untuk membantu keperluan rumah tangga.

"Saya ingin meluruskan bahwa istri saya ini tidak punya ajudan, istri bintang dua tidak boleh ada ajudan. Jadi, hanya membantu kegiatan rumah tangga dan menjadi driver pada saat kegiatan Bhayangkara," kata Sambo.

Sedangkan untuk kesaksian mantan ajudan Adzan Romer, Sambo mengatakan, tidak pernah memakai sarung tangan dan senjata yang jatuh saat menuju rumah dinas bukan senjata HS-19 melainkan senjata combat wilson miliknya.

"Kemudian kalau keterangan Romer saya tegaskan bahwa tidak pernah mengenakan sarung tangan turun dari kendaraan. Senjata yang jatuh bukan senjata HS tetapi senjata pribadi saya, combat wilson yang mirip tadi disampaikan," terangnya.

"Keterangan Romer juga bahwa pada saat masuk, pintu kamar duren tiga terbuka, saya masuk menjemput istri saya itu, saya membuka pintu kamar istri saya. Kemudian, saudara Romer juga menyampaikan bahwa melewati tubuh Yosua, itu tidak. Karena saya menghindari istri saya melihat tubuh korban. Saya lewatkan mepet dengan TV waktu itu," tambah Sambo.

sidang ferdy sambo dan putri candrawathi
sidang ferdy sambo dan putri candrawathi

©Liputan6.com/Faizal Fanani

Kemudian, dia kembali menjelaskan soal asal-usul penggunaan rumah dinas di Perumahan Komplek Polri, Duren Tiga yang sudah ditempati sejak tahun 2015 hingga dua rumah pribadi di Jalan Saguling dan Bangka.

"Bahwa kompleks Polri Duren Tiga adalah rumah dinas yang sudah kami tempati sejak 2015. Karena ajudan dan kru di rumah sudah bertambah, kami pindah ke rumah pribadi Bangka, kami tinggali sampai pertengahan 2020. Waktu itu rumah Saguling belum jadi. Kemudian Saguling jadi. Saya pindah," ujarnya.

Sementara untuk keterangan Damianus Laba Kobam atau Damson (Security) dan Daryanto atau Kodir (ART), Ferdy Sambo menjelaskan soal kegiatannya melakukan seab antigen sepulang dari perjalanan Magelang Jawa Tengah.

"Ada sebagian kami koreksi, pertama saksi Damson bahwa tanggal 8 emang disiapkan antigen karena kami memiliki anak kecil karena antigen. Saya antigen sendiri. Kedua, Kodir, 46 (rumah dinas) itu bukan hanya isoman tapi apabila saya kunjungan luar kota biasanya saya bersih-bersih di 46," beber Sambo.

sidang ferdy sambo dan putri candrawathi
sidang ferdy sambo dan putri candrawathi

©Liputan6.com/Faizal Fanani

Disamping itu, Putri Candrawathi juga membantah apabila dirinya disebut turut melihat tubuh Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J usai dieksekusi tembak saat berada di rumah dinas Kompleks Perumahan Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan.

"Untuk kesaksian dari saudara Romer, bahwa saya tidak melihat tubuh korban Yosua seperti yang disampaikan saudara Romer," terangnya.

Dia menerangkan, dirinya dijemput Ferdy Sambo dari kamar yang mana turut dirangkul dengan mata ditutupi oleh tangan suaminya.

"Karena pada saat saudara Pak Ferdy Sambo menjemput saya di kamar, Pak Ferdy Sambo itu merangkul saya dan tangannya menutupi kepala saya," jelasnya.

Lebih lanjut, Putri juga menjelaskan soal para ajudan yang turut mendampingi. Salah satunya adalah Brigadir J yang bukan ajudan darinya melainkan ajudan dari Sambo yang diperbantukan untuk menjadi sopir.

art susi peluk putri candrawathi dan cium tangan ferdy sambo
art susi peluk putri candrawathi dan cium tangan ferdy sambo

©Liputan6.com/Faizal Fanani

"Diperbantukan untuk, atau sebagai driver saya untuk membawa mobil pada saat saya kegiatan di luar atau kegiatan Bhayangkari. Dan saya juga dibantu dengan kegiatan rumah tangga karena untuk operasional rumah maupun dinas, ungkapnya.

"Dan yang ketiga adalah bahwa Ricky adalah ajudan Bapak Ferdy Sambo yang untuk sementara diperbantukan untuk mengawal anak-anak kami. Karena pada saat Kuat yang seharusnya pergi ke Magelang untuk mendampingi anak kami. Tetapi Kuat pada saat itu terkena COVID, jadi diganti oleh Ricky karena Ricky ajudan yang pernah bertugas di Jawa Tengah," tambah Putri.

Sementara itu, dia menerangkan, rumah pribadi yang ada di Jalan Bangka adalah rumah orang tuanya yang kerap ditinggali, karena lebih dekat dari Mabes Polri maupun Wisma Bhayangkari.

"Mohon izin yang mulia sedikit pertegas saja bahaya rumah di Bangka rumah orang tua saya yang saya pinjam untuk transit karena lebih dekat Mabes dan Wisma Bhayangkari, saya sebagai Bendahara," tutup Putri. [fik]