Banteng Liar di Malang Tinggal Enam Ekor  

TEMPO.CO, Malang - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) memperkirakan jumlah Banteng Jawa (Bos javanicus) di hutan daerah Malang, Jawa Timur, tinggal enam ekor. Data ini berdasarkan survei dan penelitian yang dilakukan BKSDA.

Balai konservasi mencatat keberadaan banteng-banteng itu berdasarkan informasi dari masyarakat dengan mengamati jejak kaki, kotoran, dan pakan mereka. "Belum ada perjumpaan secara langsung," kata Kepala Resor BKSDA Malang-Batu, Dedi Sudiana, Jumat, 12 Juli 2013.

Menurut data 1994, ketika itu jumlah banteng mencapai 20 ekor. Mereka hidup di hutan lindung Tirtoyudo.

Proses pengamatan maupun sensus populasi banteng terbilang sulit. Hal itu karena banteng termasuk satwa liar yang sulit dijumpai secara langsung. Pada akhir 2011 lalu, ada tiga ekor banteng terdiri dari seekor banteng jantan, betina, dan anak yang turun ke pemukiman warga di Dusun Lenggoksono, Desa Purwodadi, Tirtoyudo Kabupaten Malang.

Bahkan, sebelumnya terjadi konflik antara banteng dan warga. Seorang warga tewas diseruduk banteng liar. Lantas warga memburu dan menyembelih satwa langka tersebut. Kawanan banteng memasuki ladang untuk mencari pakan.

Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, menilai habitat banteng terdesak pemukiman dan ladang penduduk. Sepuluh tahun terakhir, populasinya tinggal lima ekor.  "Banteng kehabisan pakan sehingga turun ke pemukiman," katanya.

Rosek mengusulkan agar habitat banteng ditetapkan sebagai lahan konservasi khusus banteng karena banteng merupakan satwa langka. "Kementerian Kehutanan harus membuat kawasan konservasi khusus banteng di Malang," ujarnya.

Pemerintah perlu meneliti kawasan hutan yang tepat sebagai kawasan konservasi. Terutama, hutan yang jauh dari pemukiman dan tak pernah ada konflik dengan manusia.

EKO WIDIANTO

Terpopuler

Wawancara Tempo dengan Ucok Eksekutor Cebongan

Ini Pengakuan Penulis Buku SD 'Porno' Anak Gembala

Sefti Ingin Jenguk Fathanah di Bilik Asmara

Alex Noerdin Batal Jadi Gubernur Sumatera Selatan

Wanita Ini Diperkosa Saat Antre Tiket Wimbledon

 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.