Bantu Anak Percaya Diri Dulu, Baru Bicara Prestasi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ada kebanggaan tersendiri bila anak mencetak prestasi melebihi teman-temannya. Hal itu pula yang dirasakan Mona Ratuliu, aktris dan presenter yang kini sibuk menjadi influencer. Ia bahkan mengaku iri bila melihat anak-anak lain yang pintar, berprestasi, memiliki piala, dan medali.

"Tapi ternyata setelah aku jalani, anak-anak memiliki potensi yang luar biasa, jauh lebih hebat dari apa yang kita bayangkan selama ini," tutur Mona dalam acara Gerakan Inisiatif Biskuat #GenerasiTiger, Senin, 27 Agustus 2021.

"Tentunya itu tidak instan, loh," tambah dia.

Menurut Mona, orangtua perlu memiliki rencana tumbuh kembang agar sang anak bisa tumbuh sesuai keinginan mereka. Dasar yang perlu ditanamkan sejak dini adalah membentuk kepribadiannya lewat beragam stimulasi. Tak terkecuali dengan memupuk kepercayaan diri anak.

Kepercayaan diri menjadi modal untuk membangun karakter yang lebih hebat, seperti jujur, bisa bekerja sama, menghargai perbedaan dan rendah hati. Kak Seto, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menekankan, hal itu bisa dipupuk lewat apresiasi dan membandingkan anak dengan diri anak sendiri.

"Tunjukkan anak adalah subjek bukan objek, tunjukkan mereka adalah bibit unggul yang mereka," tutur Kak Seto.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Siap Dikoreksi

Ilustrasi Remaja dan Orangtua Credit: pexels.com/Nata
Ilustrasi Remaja dan Orangtua Credit: pexels.com/Nata

Kunci percaya diri itu salah satunya adalah komunikasi dua arah. Orangtua membuka ruang diskusi agar anak bisa mengemukakan buah pikirannya dengan lebih berani.

Di sisi lain, orangtua juga semestinya tak takut untuk dikritisi anak. Mereka bisa memulai dengan menanyakan kepada anaknya perihal perilaku mereka yang mungkin salah.

Orangtua lalu mencatat masukan anak dan memperbaikinya. Dari tindakan ini, anak dapat belajar bahwa setiap orang memiliki kelemahan atau kesalahan.

"Jadi, anak belajar kalau mama atau papa saja mau dikoreksi, ada contoh keteladanan, begitu pun sebaliknya. Ada diskusi seperti ini akhirnya dapat membentuk karakter anak," ujar Kak Seto.

"Pendidikan adalah keteladanan dan pendidikan yang penuh kasih sayang," tambah dia.

Menjadi Teman

(kiri-kanan) Kak Seto Mulyadi, Mona Ratuliu, Maggie Effendy, Widya Saputra (MC), dan Prof. Eko, dalam acara virtual panel diskusi Gerakan Inisiatif Biskuat #GenerasiTiger, Senin, 27 Agustus 2021. (dok. Liputan6.com/Gabriella Ajeng Larasati)
(kiri-kanan) Kak Seto Mulyadi, Mona Ratuliu, Maggie Effendy, Widya Saputra (MC), dan Prof. Eko, dalam acara virtual panel diskusi Gerakan Inisiatif Biskuat #GenerasiTiger, Senin, 27 Agustus 2021. (dok. Liputan6.com/Gabriella Ajeng Larasati)

Ketua Pengurus Besar PGRI dan Ketua PGRI Smart Learning and Character Center, Prof. Richardus Eko Indrajit menambahkan tips lain. Ia menyarankan agar orangtua meminta anak mereka untuk mengajari hal yang mereka bisa untuk memupuk kepercayaan diri mereka.

Kemudian, orangtua juga dapat menjadi teman bagi sang anak. "Kalau kita (orangtua) ingin komunikasi sama mereka (anak), kita ingin mereka melakukan apa yang kita inginkan, kita (orangtua) masuk ke dunia mereka dan mereka terbuka sama kita," ujar Eko.

Masa pandemi yang memungkinkan anak lebih banyak berinteraksi dengan orangtua, bisa dimanfaatkan baik anak maupun orangtua untuk belajar percaya dan menanamkan kepercayaan diri. "Pendidikan dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah oleh guru-gurunya," imbuh dia. (Gabriella Ajeng Larasati)

Anak Tak Perlu ke Mal

Infografis Tak Perlu ke Mal, Anak Lebih Baik di Rumah Saja. (Liputan6.com/Niman)
Infografis Tak Perlu ke Mal, Anak Lebih Baik di Rumah Saja. (Liputan6.com/Niman)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel