Bantu Petani, Dosen UNG Sulap Kotoran Kelelawar Jadi Pupuk Organik

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Gorontalo - Kelelawar yang akhir-akhir ini kerap dikaitkan dengan Virus Corona atau Covid-19, ternyata memiliki banyak manfaat. Kali ini, seorang dosen sekaligus peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Safriyanto Dako menyulap kotoran kelelawar menjadi pupuk organik.

Menurut Ketua Tim Program Pengembangan Desa Mandiri (PPDM) Desa Olibu, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo ini, kotoran kelelawar bisa dijadikan sebagai bahan baku utama pupuk kompos alami yang berfungsi sebagai aktivator pupuk organik padat maupun cair.

"Kebetulan di desa Olibu bermukim jutaan kelelawar, dengan adanya stigma bahwa kelelawar identik dengan virus Covid-19, maka orang-orang pada takut mendekat," kata Safriyanto.

"Maka dengan begitu saya ciptakan inovasi terbarukan, yakni pembuatan pupuk organik dari kotoran kelelawar," tuturnya.

Menurutnya, selain melawan stigma Covid-19, ia juga melihat permasalahan lain yang dihadapi oleh petani di Desa Olibu yang kurang akan pasokan pupuk. Sebab, mayoritas penduduk desa tersebut adalah petani yang sangat membutuhkan pupuk.

"Penduduk desa sangat sulit mendapatkan pupuk. Selain akses jalan yang cukup jauh, ketersediaan pupuk saat ini sangat terbatas bahkan sulit untuk didapatkan," tuturnya.

Ia mengaku, jika pupuk yang dihasilkan dari kotoran kelelawar ini pun tak kalah bersaing dengan pupuk pabrikan pada umumnya. Pupuk tersebut mampu memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan tanaman jagung, terutama pada jagung manis.

"Pemberian pupuk organik cair dari kotoran kelelawar ini, mampu mempercepat pertumbuhan tinggi tanaman, umur berbunga dan buah yang maksimal," ungkapnya.

Misi Pelestarian Kelelawar

Jutaan kelelawar yang bermukim di kawasan Konservasi Desa Olibu, Kecamatan Paguyaman Pantai, Boalemo (Arfandi Ibrahim.Liputan6.com)
Jutaan kelelawar yang bermukim di kawasan Konservasi Desa Olibu, Kecamatan Paguyaman Pantai, Boalemo (Arfandi Ibrahim.Liputan6.com)

Tidak hanya itu, kata Safriyanto, kotoran kelelawar atau biasa disebut guano ini, bisa dijadikan pakan ikan. Secara alami, kelelawar yang hidup di kawasan hutan bakau desa Olibu mampu menghasilkan banyak makanan bagi ikan di laut Teluk Tomini.

"Kebetulan kelelawar di desa Olibu hidup di hutan bakau, maka otomatis banyak ikan di laut yang memakan kotoran kelelawar sebagai satu kesatuan dari rantai makanan," imbuhnya.

"Nah, kotoran ini juga bisa dibuat pakan ikan peliharaan. Bisa diolah dengan cara dicampur ikan-ikan kecil. Sangat bagus untuk ikan yang dipelihara di keramba laut," ungkapnya.

Ia berharap, inovasi yang dihasilkan itu akan dimanfaatkan oleh warga Desa Olibu dengan baik. Selain membantu warga desa setempat dalam hal kesulitan pupuk, ia juga berusaha agar kelestarian kelelawar di wilayah itu bisa terjaga.

"Peningkatan pengetahuan kelompok masyarakat dalam pembuatan pupuk, ini juga merupakan salah satu implementasi kegiatan konservasi kelelawar. Minimal dengan adanya inovasi ini, perburuan kelelawar yang kian masif akan sendirinya hilang," tuturnya.

"Alhamdulillah saya sudah lakukan pelatihan pembuatan pupuk organik cair sederhana dan warga sangat antusias," ia menandaskan.

Simak juga video pilihan berikut:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel