Bantuan Siswa Miskin Disunat

Laporan Wartawan Pos Kupang, Muchlis Al Alawy

TRIBUNNEWS.COM, KUPANG -- Naas menimpa anak-anak Sekolah Dasar GMIT Kolhua, Kota Kupang. Dana bantuan siswa miskin (BSM) senilai Rp 360.000/siswa tak diterima utuh. Diduga dana itu disunat manajemen sekolah dengan dalih keperluan pendidikan anak-anak sekolah.

Fakta itu terungkap ketika Pos Kupang menemui beberapa orang tua siswa di halaman SD GMIT Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Selasa (3/7/2012).

Informasi yang dihimpun Pos Kupang,  sempat terjadi adu mulut antara salah satu orang tua murid dengan guru terkait penyunatan dana BSM di sekolah tersebut.

Rata-rata para orang tua meminta transparansi sekolah memotong bantuan siswa miskin. Apalagi pemotongan itu tidak pernah diberitahukan kepada orang tua murid.

"Kami tahu anak-anak menerima beasiswa setelah mereka pulang membawa amplop berisi uang. Kebetulan dua anak saya sekolah di SD itu," ujar Edward Sayuna salah satu orang tua murid.

Menurut Edward, saat membuka amplop tersebut satu berisi Rp 70 ribu dan satunya berisi Rp 80 ribu. Setelah dikonfirmasi ke pihak sekolah, uang yang diberikan merupakan sisa bantuan siswa miskin yang sudah dipotong untuk kebutuhan anak-anak sekolah.

Bagi Edward, sejatinya bantuan sebesar Rp 360.000 itu akan digunakan untuk keperluan anak-anaknya. Ia mencontohkan uang yang terkumpul sebenarnya hendak digunakan untuk membeli tas dan keperluan buku lainnya.

Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi sekitar akhir April  2012 lalu. Selama dua hari anak-anaknya dibawa manajemen sekolah datang ke Kantor Pos dan Giro di Kota Kupang untuk mengurus pencairan beasiswa tersebut. "Hari pertama mereka urus administrasi dan hari kedua baru pencairan dana," kata Edward.

Senada dengan Edward, orang tua murid lainnya, Arlince Bistolen mengaku potongan penerimaan beasiswa juga dialami anaknya. Lain halnya dengan anaknya Edward, beasiswa anaknya hanya dipotong Rp 130 ribu saja. "Potongan itu katanya untuk pembelian lima buku LKS dan uang komite yang belum kami bayarkan," jelas Arlince.

Tak beda dengan Arlince, seorang ibu rumah tangga yang anaknya menerima BSM, mengaku kecewa dengan sikap sekolah yang melakukan pemotongan dana secara sepihak itu. Semestinya sebelum memotong dana harus ada persetujuan dari orang tua dan komite.

"Sampai saat ini kami tidak tahu alasan apa yang digunakan sekolah sehingga berani memotong hak-hak anak kami ini," ujar Ny. Arlince.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.