Banyak anak-anak terbunuh dalam perang Filipina melawan narkoba: laporan

Oleh Stephanie Nebehay

GENEVA (Reuters) - Setidaknya 129 anak tewas dalam empat tahun Filipina memerangi narkoba, sebagian besar oleh polisi atau kelompok penyerang terkait, tetapi mereka mungkin hanya mewakili sebagian kecil dari jumlah korban, kata kelompok aktivis, Senin.

Anak-anak di bawah umur telah secara langsung menjadi sasaran, dihukum sebagai kepanjangan tangan, atau korban salah identitas atau kerusakan imbasan", kata mereka dalam sebuah laporan bertitel "Bagaimana mereka bisa melakukan ini terhadap anak saya?".

Organisasi Dunia Menentang Penyiksaan (OMCT) dan Pusat Pengembangan dan Hak-Hak Hukum Anak-anak, sebuah kelompok yang bermarkas di Filipina, mendesak Dewan HAM PBB untuk membentuk komisi penyelidikan independen mengenai pembunuhan di luar proses hukum dan kejahatan lainnya pada pembukaan dari sesi pertemuan tiga minggu Selasa.

Angka-angka, yang termasuk tujuh pembunuhan anak-anak tahun ini, adalah "puncak gunung es karena hanya kasus-kasus itulah kami dapat mendokumentasikan dan memverifikasi, mungkin ada lebih banyak lagi di negara ini", kata Gerald Staberock, Sekjen OMCT.

"Kami menyerukan Dewan Hak Asasi Manusia untuk memberikan mandat investigasi yang jelas di lapangan untuk mengumpulkan bukti dan memastikan akuntabilitas," katanya dalam konferensi pers.

Seorang juru bicara istana kepresidenan Filipina tidak segera menanggapi permintaan komentar. Juru Bicara Harry Roque menolak ketika "mengulang klaim" sebuah laporan terpisah bulan ini yang menemukan bahwa puluhan ribu orang mungkin terbunuh dalam perang melawan narkoba di tengah impunitas yang hampir tidak ada.

Tetapi laporan para aktivis itu mengatakan: "Jauh dari sekadar akibat kerusakan imbasan, seperti yang dikatakan oleh Presiden Rodrigo Duterte, ini seringkali merupakan pembunuhan yang disengaja."

Investigasi mereka menemukan bahwa 38,5% dari pembunuhan anak yang didokumentasikan dilakukan oleh polisi sementara 61,5% oleh penyerang yang tidak dikenal, "beberapa dari mereka memiliki hubungan langsung dengan polisi". Korban termuda adalah seorang anak perempuan berusia 20 bulan.

Para pelaku menikmati impunitas, dengan hanya satu kasus, yang melibatkan pembunuhan seorang siswa Manila berusia 17 tahun Kian delos Santos, yang direkam dalam video pada 2017, yang mengarah pada sebuah hukuman, kata laporan itu.

Anak-anak yang melanggar karantina dalam pandemi telah terbunuh, Rose Trajano dari Aliansi Advokat Hak Asasi Manusia Filipina, mengatakan.

"Kami telah mendokumentasikan setidaknya 15 pembunuhan di luar proses hukum selama masa COVID dan kami tahu itu belum semuanya," katanya.

(Laporan oleh Stephanie Nebehay; Editing oleh Nick Macfie)