Banyak Anggota Tim Operasi SAR Sriwijaya Air Reaktif COVID-19

Daurina Lestari, Andrew Tito
·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktur Operasi Badan SAR Nasional (Basarnas), Brigjen TNI Rasman, mengungkapkan banyak anggota timnya reaktif COVID-19 saat melakukan tugas operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

Dia pun mengingatkan kepada seluruh tim operasi untuk mematuhi protokol kesehatan, yang berada di posko JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok.

Rasman menegaskan, meski saat ini sedang dalam tugas kemanusiaan, protokol kesehatan harus tetap dijaga agar mencegah penularan. Karena seluruh tim yang beroperasi harus dalam kondisi sehat prima untuk melakukan hasil yang memuaskan.

“Kembali masalah penekanan yang berkaitan dengan keberadaan kita di posko JICT, sekali lagi saya tidak henti-hentinya mengingatkan untuk kita semua untuk selalu mematuhi protokol kesehatan,” ujar Rasman saat memberikan keterangan di Posko JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 Januari 2021.

Rasman menambahkan, pihaknya juga menyediakan posko untuk para tim operasi bisa melakukan rapid test antigen setiap harinya. “Dari beberapa tes yang dilakukan, ditemukan cukup banyak (anggota) yang reaktif” ujarnya.

Baca juga: Lapor ke Jokowi, Menko Airlangga: Indeks Saham RI Tertinggi di ASEAN

Dia menjelaskan, untuk para anggota yang reaktif kini sudah dilakukan isolasi. Rasman tidak menjelaskan secara rinci siapa saja orang, atau anggota dari satuan mana saja yang dinyatakan reaktif ketika rapid test antigen di dermaga JICT.

“Sebagai informasi saja bahwa dari kegiatan rapid antigen yang kita lakukan setiap hari di belakang, itu telah ditemukan yang reaktif cukup banyak. Dan itu sudah dilakukan isolasi,” ujarnya.

Menurut Rasman, setiap orang yang terlibat dalam evakuasi pesawat Sriwijaya Air SJ 182, harusnya tetap waspada akan pandemi dan penularan COVID-19.

Dalam hal ini, Rasman menjelaskan, jangan sampai tugas kemanusiaan yang saat ini dilakukan para instansi pemerintah, justru menjadi sumber penularan kepada orang lain. “Saya pikir informasi ini saya berikan kita tetap waspada, kita tetap mematuhi protokol kesehatan untuk keamanan kita bersama. Jangan sampai kita jadi sumber penularan kepada orang lain,” ujarnya.

Rasman menegaskan, ketika sedang bergerombol, para anggota berbagai instansi harus memakai masker. Masker yang dipakai juga harus yang sesuai standar agar memudahkan untuk berkomunikasi, namun tetap melindungi diri dari penularan virus.

“Gunakan saja yang standar seperti yang saya gunakan ini. Saya bisa ngomong secara leluasa tanpa harus melepaskan masker, bahkan saya bisa lapisi dua, tapi enggak memengaruhi komunikasi kita dengan baik,” ujarnya.