Banyak Balita Kurang Gizi Akibat Pandemi, Pakar Beri Solusinya

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebelum pandemi COVID-19, Indonesia memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak berdasarkan laporan Riskesdas 2018.

Pada sebuah keluarga, balita memanglah kelompok yang paling rentan dalam hal distribusi makanan. Mereka sangat tergantung orangtua untuk pemenuhan gizinya, dan kebutuhan ini seringkali tergeser oleh kebutuhan keluarga yang lain. Bahkan, menurut penelitian Foodbank of Indonesia (FOI), ada sekitar 27 persen persen anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari.

"Hasil survei FOI pada Agustus 2020 di 14 kota, 27 persen balita ke sekolah dengan perut kosong karena tidak makan hingga siang hari. Hal itu disebabkan minimnya anak yang sarapan pagi saat sekolah. Bahkan di daerah padat perkotaan, angkanya mencapai 40-50 persen," ujar Founder FOI, Hendro Utomo, dalam acara virtual, Rabu 28 Oktober 2020.

Hal ini diperparah dengan adanya pandemi COVID-19, kemiskinan yang bertambah, angka pengangguran, dan tingkat pendidikan yang rendah. Keluarga dan anak-anak yang jatuh miskin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat dalam hal keamanan pangan rumah tangga dan keterbatasan terkait akses, ketersediaan, dan keterjangkauan bahan makanan sehat.

Maka dari itu, pemberian pangan pada kelompok tersebut tak disarankan hanya berupa beras atau mi instan melainkan juga sumber protein seperti telur atau ikan kalengan. Dengan begitu, anak tak sekadar kenyang namun juga mengonsumsi pangan padat gizi.

"Jadi lebih dari sekadar menyediakan makanan, tetapi apa yang dimakan oleh masyarakat khususnya anak-anak harus jadi perhatian kita," ujar Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir Eni Harmayani M.Sc, dalam acara virtual bersama Foodbank of Indonesia (FOI), Rabu 28 Oktober 2020.

Ia menekankan, sumber gizi yang baik tak melulu mahal tetapi mencakup nutrisi seimbang. Pangan lokal pun bisa dimanfaatkan, selain harganya yang murah, juga mudah dijangkau.

Lebih dalam, pemberian pangan pada anak tetap harus juga tepat dengan memenuhi piramida gizi seimbang sesuai anjuran pemerintah. Seringkali, orangtua hanya memberi makan nasi dan telur tanpa menambah sayuran atau buah.

"Karena mungkin saja makanannya bagus tapi cara memasaknya salah atau prosesnya salah, sehingga yang dikonsumsi atau yang masuk ke dalam tubuh menjadi sangat tidak sehat," lanjutnya.

Jika kelaparan terjadi dalam jangka panjang, terdapat kemungkinan gizi buruk yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada balita. Maka dari itu, pola makan sehat harus diterapkan sejak dini melalui piramida gizi seimbang dan membatasi asupan makanan cepat saji.

Baca juga: Ingat! Kental Manis Bukan Susu Tapi Topping