Banyak Gerai Warabala Langgar Aturan Tata Kota

TEMPO.CO, Jakarta- Sekretaris Jenderal Asosiasi pedagang se-Indonesia Ngadiran, menilai banyak perusahaan waralaba yang mendirikan gerainya melanggar peraturan undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang tata kelola kota. Alhasil, simpul kemacetan tiap daerah terus bertambah tiap tahunnya.

"Coba perhatikan rata-rata mereka berdiri (beropreasi) dekat persimpangan dan perempatan jalan, dan itu pasti menimbulkan kemacetan," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu, 19 September 2012.

Pendirian tempat usaha khususnya gerai waralaba seharusnya memperhatikan peraturan penataan kota tiap daerah, sehingga tidak menimbulkan simbul baru kemacetan lalu lintas. Namun yang terjadi, kebanyakan perusahaan tidak mengindahkan hal itu.

"Biasanya mereka mengakali aturan dengan berbagai macam. Mungkin saja aturannya dibayar, sehingga larangan bisa dilabrak," ujarnya.

Semakin banyaknya gerai waralaba yang dibangun tanpa kaidah tata kota, kata dia, menyebabkan peningkatan kesemrawutan dan kemacetan di tiap daerah terus tumbuh tiap harinya. "Harusnya pemerintah tegas menata mereka, jangan asal dikeluarkan saja izinnya," katanya.

Khusus wilayah DKI Jakarta, Ngadiran melanjutkan, banyak gerai waralaba yang melanggar peraturan daerah (perda) provinsi DKI Jakarta no 2 tahun 2002 tentang penataan dan pembinaan pasar modern. Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI bisa bertindak cepat menertibkan gerai yang berpotensi menimbulkan kemacetan.

"Gubernurnya tidak bisa melakukan penataan wilayah dengan benar padahal ngakunya dia ahlinya tata kelola kota," ujarnya.

Ngadiran menambahkan di samping pendirian yang tidak mengindahkan tata kota, banyak gerai waralaba yang beroperasi hingga 24 jam sehingga mematikan usaha warga sekitar. "Jangan sampai 24 jam, karena itu mematikan usaha warga sekitar," ujarnya.

Khusus persoalan ini, Ia berharap pemerintah melakukan revisi terhadap aturan peraturan menteri perdagangan (Permendag) nomor 53 tahun 2008 mengenai izin operasional dan bentuk usaha waralaba yang dijalankan.

"Jangan sampai sudah lama berdiri baru dipermasalahkan," ujarnya.

Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Amir Karamoy menolak anggapan waralaba mematikan usaha masyarakat sekitar, namun sebaliknya penambahan gerai waralaba berpotensi menambah membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

"Makanya mereka (masyarakat) kerja sama dengan peretail, dan pengelolaannya mereka yang lakukan," katanya.

Amir menegaskan, semakin banyaknya masyarakat yang bergabung dengan usaha retail, maka semakin besar potensi dan hasil usaha masyarakat sekitar yang bisa di jual. "Banyak petani dan lainnya yang bisa dijadikan mitra usaha dengan harga lebih baik,".

JAYADI SUPRIADIN

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...