Banyak orang mulai hijrah dari Twitter -- tapi semudah itukah memindahkan jaringan komunitas kita ke platform yang baru?

Ketika Elon Musk resmi mengakuisisi Twitter dengan nilai US$ 44 miliar (sekitar Rp 690 triliun) pada 27 Oktober 2022, ia mengumumkan bahwa “sang burung kini bebas” (“the bird is freed”). Banyak orang di situs mikroblog ini kemudian melihat hal tersebut sebagai alasan untuk ‘terbang’ ke platform lain.

Selama 48 jam berikutnya, misalnya, saya melihat banyak sekali orang di linimasa Twitter saya mengumumkan bahwa mereka akan hengkang dari platform ini, atau setidaknya sedang bersiap-siap untuk pergi. Tagar #GoodbyeTwitter, #TwitterMigration, dan #Mastodon kemudian menjadi populer. Mastodon, sebuah platform jejaring sosial yang bersumber terbuka (open source) dan terdesentralisasi, mencatat kenaikan lebih dari 100.000 pengguna baru hanya dalam beberapa hari, berdasarkan hitungan suatu bot.

Sebagai seorang peneliti ilmu informasi yang mengkaji komunitas daring, saya melihat bahwa migrasi media sosial seperti ini bukanlah hal baru. Platform medsos biasanya memang tidak bertahan selama-lamanya. Tergantung umur dan kebiasaan daring Anda, kemungkinan ada beberapa platform yang Anda lewatkan atau yang pernah Anda gunakan dulu dan masih eksis sampai sekarang, walaupun dalam tampilan yang berbeda, seperti Space, LiveJournal, Google+, dan Vine.

Ketika suatu platform medsos tumbang atau popularitasnya menurun, terkadang para komunitas yang ada di sana pelan-pelan hilang, kadang juga mereka berpindah ke platform yang lain. Gejolak di Twitter saat ini menyebabkan banyak penggunanya mempertimbangkan untuk meninggalkan platform tersebut.

Beberapa riset terkait migrasi platform medsos di masa lalu menunjukkan beberapa kemungkinan dan tantangan yang bisa muncul ke depannya bagi para netizen yang memutuskan untuk pindah.