Banyak Pembalap Hebat Awali Karier F1 dengan Membayar

Adam Cooper
·Bacaan 2 menit

Nikita Mazepin resmi menjadi pembalap Haas mulai F1 2021 pada Selasa (1/12/2020). Kendati begitu, tidak disebutkan nominal nilai kontrak berikut durasinya.

Spekulasi pun beredar bila Mazepin dikontrak untuk jangka waktu lama. Tidak hanya itu, logo perusahaan produsen pupuk asal Rusia, Uralkali, diyakini sebentar lagi akan menghiasi kedua sasis Tim Haas meskipun nilai komersialnya masih ditutup rapat kedua pihak.

Menariknya, kabar yang beredar menyebut Dmitry Mazepin – ayah Mazepin dan pemilik saham terbesar Uralkali – berencana menanamkan investasi besar di Haas. Pandangan miring pun mencuat bila masuknya Mazepin tak lepas dari rencana kucuran dana untuk Haas dari Dmitry.

Dalam beberapa tahun terakhir, kiprah sejumlah pembalap berlatar belakang orangtua miliuner nan berpengaruh, memang marak dibicarakan. Tidak sedikit pencinta F1 yang mulai skeptis dengan masa depan olahraga ini bila budaya ini terus berlanjut.

Sergio Perez, Racing Point, salah satu pembalap bagus di F1 meskipun berstatus pay driver saat debut.

Sergio Perez, Racing Point, salah satu pembalap bagus di F1 meskipun berstatus pay driver saat debut. <span class="copyright">Andy Hone / Motorsport Images</span>
Sergio Perez, Racing Point, salah satu pembalap bagus di F1 meskipun berstatus pay driver saat debut. Andy Hone / Motorsport Images

Andy Hone / Motorsport Images

“Pertama, saya harus sebut nama Checo (sapaan Sergio Perez, pembalap Tim Racing Point). Saat pertama datang ke F1 (ke Tim Sauber pada 2011), Checo adalah pay driver,” kata Steiner. “Tapi, lihat Checo kini. Ia mampu finis podium dan di P5 klasemen F1 jelang dua lomba terakhir.”

Steiner lalu menyebut nama George Russell, andalan Williams-Racing, yang menurutnya salah satu pembalap hebat di F1 saat ini. Menurut Steiner, tanpa dukungan dari Mercedes – pemasok mesin Williams musim ini – Russell takkan ada di F1.

“Masih banyak pembalap seperti itu. Lance Stroll (Racing Point) juga mampu naik podium musim ini,” tutur Steiner. “Jika ada pembalap bagus di F2 dan memiliki sponsor oke, itu akan menjadi solusi yang sempurna.”

Guenther Steiner juga mengatakan bila mantan koleganya di Jaguar Racing, Niki Lauda, juga harus membayar untuk turun dua musim penuh perdananya di F1, bersama March pada 1972 lalu BRM pada 1973.

Kejadian ini bahkan dimasukan dalam cerita film layar lebar, Rush, yang mengisahkan tentang persaingan Lauda dengan pembalap top lain saat itu, James Hunt. Semua pun tahu bila akhirnya Lauda mampu merebut tiga gelar juara dunia F1 (1975, 1977, 1984).

“Ketika saya bicara dengan Niki soal F1 di masa lalu, ia bilang, ‘Saya berhasil ke F1 karena ada satu bank yang menjadi sponsor. Jadi saya bisa turun dan membeli posisi di tim’,” kata Steiner. “Seingat saya, itu terjadi di BRM. Ingat, Lauda juara dunia dalam dua periode (sempat mundur lalu kembali) di F1.”

Guenther Steiner sekali lagi menegaskan, performa bagus Mazepin di F2 menjadi pertimbangan utama Haas merekrutnya.

“Semua hanya tergantung dari sudut pandang mana Anda melihat, positif atau negatif,” ujar Steiner. “Jika seorang pembalap itu memang bagus ditambah dukungan finansial, ia akan memiliki peluang lebih baik daripada pembalap hebat tapi tidak didukung sponsor.”