Banyak Warga Prancis Pilih Tak Punya Anak demi Menyelamatkan Bumi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pasangan yang menikah biasanya ingin punya anak atau keturunan, namun sebagian pasangan ada yang memilih tidak ingin memiliki anak. Keputusan itu ternyata banyak dipilih sejumlah warga Prancis dengan beragam alasan.

Salah satunya karena populasi global telah melampaui 7,8 miliar orang. Pilihan ini muncul karena keinginan untuk membantu planet Bumi dan terlibat mengatasi pemanasan global.

"Memiliki anak akan sangat bertentangan dengan prinsipku. Aku tidak pernah menginginkan anak dan semakin yakin dengan keputusan ini saat saya bertambah tua. Di dunia Barat, kita mengonsumsi lebih dari sumber daya yang tersedia," jelas Manon (26), dikutip dari France24, 11 Juli 2021.

Manon tahu topik ini sulit dibahas dengan orangtuanya, bahkan di tengah keluarga yang peduli lingkungan. "Saat kami membicarakannya, mereka tidak benar-benar paham. Bagi mereka, punya pekerjaan, menikah, punya anak adalah bagian dari kehidupan," tuturnya.

Manon mengatakan penjelasannya jauh lebih sulit untuk diterima, apalagi dia seorang perempuan. Orangtuanya mengatakan pemikiran itu karena dirinya masih muda dan akan lebih paham ketika sudah punya naluri keibuan. Ia tidak tahu apakah laki-laki juga menerima komentar yang sama seperti dirinya.

"Kita beruntung bisa mengontrol kehamilan di Prancis. Itu tidak dialami perempuan di mana pun di dunia. Bagi sebagian perempuan, memiliki anak atau tidak bukanlah pilihan," pungkas Manon.

Seperti Manon, semakin banyak orang dewasa yang lebih muda memutuskan tidak punya anak demi alasan lingkungan. Mereka menyebut dirinya "childfree" atau bahkan "ginks", singkatan dari "green inclinations, no kids" dan mereka dengan kukuh membela keputusan untuk tidak memiliki anak.

Hari Populasi Dunia, pada 11 Juli, dijadikan pengingat meningkatnya populasi dunia. Peringatan ini ditetapkan pada saat populasi dunia diperkirakan PBB mencapai 5 miliar jiwa pada 11 Juli 1987.

Perlawanan Terhadap Generasi Sebelumnya

Orang-orang duduk di teras tepi Sungai Seine, Paris, Prancis, Minggu (11/7/2021). Prancis telah mengakhiri kewajiban mengenakan masker di luar ruangan dan pencabutan jam malam sejak pertengahan Juni lalu menyusul penurunan kasus COVID-19. (AP Photo/Lewis Joly)
Orang-orang duduk di teras tepi Sungai Seine, Paris, Prancis, Minggu (11/7/2021). Prancis telah mengakhiri kewajiban mengenakan masker di luar ruangan dan pencabutan jam malam sejak pertengahan Juni lalu menyusul penurunan kasus COVID-19. (AP Photo/Lewis Joly)

Seorang YouTuber, Anna Bogen, juga mengatakan tidak ingin punya anak. "Saat planet ini tidak lagi memiliki sumber daya yang tersisa, saya akan mati dan dikubur. Tapi jika saya punya anak, mereka dan anak-anak mereka harus hidup dengan itu. Saya tidak ingin membebankan hal itu kepada siapapun," ucapnya.

Menurut Presiden Demographie Responsable, Denis Garnier, selama 10 tahun terakhir, membicarakan soal tidak punya anak ini menjadi hal biasa. "Anak-anak muda sekarang jauh lebih sadar, berkat publikasi penelitian-peneltiian tentang pemanasan global dan lebih banyak masyarakat yang mempertanyakan kerusakan keanekaragaman hayati," terang Denis.

Demographie Responsable (Responsible Demographics) adalah sebuah organisasi yang didirikan pada 2009 untuk mempromosikan angka kelahiran yang lebih rendah. Grafik di situs web organisasi ini menghitung secara real time jumlah orang yang hidup di bumi. Penghitung terus berdetak ke atas.

"Kita telah berada di angka 7,8 miliar. Sudah terlalu banyak. Kita seharusnya mencapai 8 miliar pada 2022 atau 2023," tambah Denis.

Di Prancis, kurang dari satu anak mewakili 40 ton karbon yang dihemat per tahun. Sebagai perbandingan, memilih menggunakan mobil listrik hanya berarti menghemat dua ton.

Mereka yang memilih tidak punya anak tidak hanya menuangkan kecemasannya di dunia maya, tapi juga menunjukkan perlawanan tertentu terhadap generasi sebelumnya. Hal itu juga ditunjukkan Clemence, seorang Youtuber berusia 27 tahun. Sebelumnya, ia berpandangan mempunyai anak itu suatu kewajiban, seperti bangun di pagi hari untuk berangkat ke sekolah.

"Namun kita harus bertanya, dunia seperti apa yang akan kita wariskan ke anak-anak kita? Saya tidak tahu apakah saya ingin mewariskan mereka sebuah dunia yang seperti ini," ujar Clemence.

Kebijakan di China

ilustrasi pasangan/Photo by Ori Song on Unsplash
ilustrasi pasangan/Photo by Ori Song on Unsplash

Berbeda dengan di Prancis, China baru mengumumkan pada 31 Mei 2021 bahwa setiap keluarga akan diizinkan untuk memiliki hingga tiga anak. Ini adalah perubahan besar dalam kebijakan yang sebelumnya hanya mengizinkan setiap keluarga memiliki dua anak.

Dikutip dari Channel News Asia, kebijakan baru ini diumumkan setelah data terbaru menunjukkan penurunan dramatis dalam angka kelahiran di China. Pada 2016, China membatalkan kebijakan untuk keluarga yang hanya diizinkan untuk memiliki satu anak, awalnya diberlakukan untuk menghentikan lonjakan populasi.

Pada awal Mei 2021, sensus yang dilakukan sekali dalam satu dekade di China menunjukkan bahwa jumlah populasi tercatat berkembang pada tingkat paling lambat selama dekade terakhir sejak 1950-an. Hal itu terlihat dalam data yang menunjukkan tingkat kesuburan 1,3 anak pada satu ibu untuk tahun 2020 saja, setara dengan jumlah warga yang sudah menua, seperti Jepang dan Italia.

7 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19

Infografis 7 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 7 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel