Banyak yang Percaya Virus Corona adalah Teori Konspirasi dari YouTube

Lazuardhi Utama

VIVA – Sebuah survei baru di Inggris menemukan bahwa semakin banyak orang percaya Virus Corona COVID-19 adalah teori konspirasi karena menonton YouTube dan platform media sosial lainnya.

Para peneliti dari King’s College London dan Ipsos MORI melakukan survei terhadap 2.254 warga Inggris berusia 16 hingga 75 tahun pada bulan lalu. Hasilnya, lebih dari setengah atau 58 persen mengakui jika Virus Corona adalah teori konspirasi akibat 'dicekoki' YouTube.

Selanjutnya, sebesar 16 persen yang juga mendapatkan informasi yang dari platform media sosial lainnya. Selain itu, mereka juga percaya kalau teknologi 5G dan Virus Corona saling berkaitan, meskipun hal itu sangat tidak berdasar.

"Ada juga yang yakin bahwa Virus Corona berasal dari laboratorium, sebuah teori yang tidak ada bukti yang disajikan," demikian keterangan resmi King’s College London dan Ipsos MORI, seperti dikutip dari situs Russia Today, Sabtu, 20 Juni 2020.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa 45 persen orang percaya bahwa kematian akibat COVID-19 telah dibesar-besarkan mendapatkan banyak informasi tentang pandemi ini dari Facebook. Sementara itu hanya 19 persen orang yang tidak percaya kaitan Virus Corona dengan teori konspirasi dari media sosial.

Survei yang dilakukan peneliti dari King’s College London dan Ipsos MORI tersebut juga menemukan bahwa usia adalah faktor bahwa seseorang percaya adanya teori konspirasi. "Justru bagi mereka yang berusia muda sangat sedikit percaya terhadap teori konspirasi," ungkapnya.

Hal ini diperkuat oleh data pada 2019 yang menyebutkan rata-rata orang berusia 65 tahun menonton berita di televisi selama 33 menit per hari, sedangkan orang berusia 16-24 tahun hanya dua menit menonton televisi di Inggris.

Sebelumnya, ada ‘wabah’ yang menyebar sama cepatnya dengan virus di masa pandemi COVID-19 ini. Wabah itu adalah teori konspirasi.

Dalam survei yang digelar baru-baru ini, sebanyak 26 persen warga Kanada percaya bahwa Virus Corona merupakan senjata biologi. Sementara 11 persen percaya bahwa penyebarannya didorong oleh teknologi 5G.

Kepercayaan terhadap konspirasi merupakan kecenderungan yang manusiawi. Setiap zaman memiliki teori konspirasinya.

Para penganut teori konspirasi ini bukan lagi sekadar bapak-bapak nyentrik yang mencurigai tamu di rumah tetangga Anda ialah agen rahasia dalam penyamaran. Mereka, sekarang, adalah penyebar pengetahuan yang mengancam kesehatan publik.