Bappenas dorong Ngarai Sianok-Maninjau berstatus UNESCO Global Geopark

Biqwanto Situmorang
·Bacaan 2 menit

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mendorong Geopark Ngarai Sianok-Maninjau, Sumatra Barat, dapat berstatus United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Global Geopark.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa ketika berkunjung ke lokasi pada Sabtu (10/4) menyatakan Geopark Ngarai Sianok-Maninjau memiliki potensi warisan geologi berupa patahan di jalur sistem vulkanik Sumatera yang bernilai internasional.

“Ini kekayaan yang luar biasa. Bappenas berusaha agar Geopark Ngarai Sianok-Maninjau menjadi UNESCO Global Geopark,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.

Geopark Ngarai Sianok-Maninjau merupakan laboratorium alam untuk penelitian dan pembelajaran mitigasi bencana dan lingkungan serta konservasi alam dan budaya.

Suharso menyebutkan terdapat minimal 17 persyaratan yang harus dipenuhi oleh Geopark Ngarai Sianok-Maninjau jika ingin mendapatkan status UGG tersebut.

“Ada 17 minimal persyaratan yang mesti dipenuhi dan kalau bisa cepat belajar dari Bangka Belitung waktu kita ke sana selama satu tahun sudah dapat approval,” ujarnya.

Ia menegaskan keanekaragaman hayati dan spesies endemis Danau Maninjau juga perlu dilestarikan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat secara turun-temurun.

Di sisi lain, pencemaran dan pariwisata yang tidak ramah lingkungan menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati danau yang semula 33 spesies pada 1916 menjadi 16 spesies pada 2014 serta 16 spesies endemis yang berkurang menjadi tujuh spesies.

Ia menekankan kontribusi pemerintah daerah sangat berperan penting untuk mengembangkan pariwisata alam yang bersih, sehat, aman dan melestarikan lingkungan hidup.

“Saya usul, Pak Wali Kota, mulai larang plastik di sini. Itu bisa membantu geopark kita karena bahan plastik itu mengancam dan merusak lingkungan. Sementara di sini lingkungannya luar biasa,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Suharso beranjak ke Kampung Tenun Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar.

Suharso melakukan dialog bersama pelaku UMKM penghasil tenun songket yang dihasilkan secara tradisional dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan memiliki motif unik yakni berbenang perak dan emas.

Menurutnya, tantangan untuk mengembangkan industri tenun songket antara lain kurangnya minat anak muda keturunan Pandai Sikek untuk menguasai keterampilan tersebut dan terbatasnya inovasi desain songket.

Kemudian juga penggunaan alat tradisional yang membuat terbatasnya jumlah produksi, keterbatasan bahan baku, keterbatasan modal, tersebarnya lokasi pengrajin, turunnya permintaan akibat pandemi, dan persaingan pasar turut menjadi tantangan.

Oleh sebab itu, Suharso menjelaskan pemerintah telah menyalurkan DAK Sentra IKM Kementerian Perindustrian 2017-2021 berupa mesin tenun dan pembinaan IKM dalam perkuatan jaringan kluster industri.

Selanjutnya, pemerintah turut melakukan revitalisasi sentra, mendirikan sarana penunjang dan instalasi pengolahan air bersih (IPAB), serta mendukung melalui program Bangga Buatan Produk UMKM.

Ia mengatakan pemasaran kain songket bisa melalui pameran, kemitraan usaha, atau menggunakan songket pada skala nasional supaya lebih dikenal masyarakat maupun dikembangkan menjadi Kawasan Wisata Tenun.

“Namun harus ada perbaikan infrastruktur akses jalan untuk memudahkan distribusi dan akses untuk wisatawan serta pelatihan dan studi untuk inovasi dan diversifikasi produk,” jelasnya.

Baca juga: Menteri PPN dukung Ngarai Sianok Maninjau jadi Unesco Global Geopark
Baca juga: Geopark Maros Pangkep diusulkan gabung dengan global geopark UNESCO
Baca juga: Menparekraf sambut Danau Toba ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark