Bappenas: Membangun kota sirkular IKN lebih dari soal mengelola limbah

Direktur Pembangunan Daerah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Mia Amalia mengatakan bahwa membangun kota sirkular di Ibu Kota Negara (IKN) lebih dari sekedar mengelola limbah.

"Seperti yg sudah disampaikan, membangun kota sirkular ini lebih dari sekedar mengelola limbah tentu saja atau menggunakan kembali sumber daya yang bisa dimanfaatkan," kata Mia Amalia saat membacakan sambutan Deputi Menteri PPN kepala Bappenas Bidang Pengembangan Regional Himawan Hariyoga Djojokusumo secara virtual. Sambutan disampaikan pada acara Forum Merdeka Barat 9 bertajuk "Menyongsong Ibu Kota Negara Sirkular" yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Menurut Mia, membangun kota sirkular berarti mempromosikan transisi dari ekonomi linier menuju ekonomi sirkular di seluruh ruang kota.

"Tentu saja dengan keragaman fungsi dan variasi urusan pemerintahan di perkotaan yang didukung dengan kolaborasi multipihak, yakni masyarakat, pelaku usaha, serta komunitas ilmiah atau peneliti," kata Mia.

Dari transisi tersebut, lanjut Mia, kota IKN yang sirkular direncanakan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, rendah emisi, serta melindungi, dan mempertahankan keanekaragaman hayati.

"Mengingat IKN di masa depan ini sangat dekat lokasinya dengan kawasan-kawasan hijau," tukas Mia.

Mia memaparkan perencanaan dan pembangunan IKN didasari oleh prinsip hidup berkelanjutan yang ditujukan untuk menjaga keseimbangan ekologi alam, lingkungan terbangun, dan sistem sosial.

IKN direncanakan menjadi ekosistem berkelanjutan yang mengelola sumber daya secara efisien melalui penataan ruang dan lahan yang tertib, pemanfaatan sumber daya air dan energi yang efisien, pengelolaan sampah dan sanitasi yang bersih dan sehat, pengembangan moda transportasi yang terintegrasi, serta penataan lingkungan perumahan dan permukiman yang layak huni, sehat, nyaman, aman, dan lestari.

Namun, lanjut Mia, salah satu implementasi konsep sirkular adalah dengan perancangan bangunan hijau, kemudian penerapan konsep kota spons yang mengkombinasikan ruang terbuka dinamis yang menyerap air hujan dan lintasan permukaan sekaligus memberikan ruang rekreasi publik bagi masyarakat.

"Infrastruktur energi juga akan dibangun secara bertahap menggunakan energi terbarukan. Pengelolaan air limbah juga dilengkapi dengan sarana serta manajemen sistem pengelolaan yang terintegrasi untuk melengkapi sistem pengelolaan yang terintegrasi untuk melengkapi perkotaan sirkular IKN," kata Mia.


Baca juga: Pembangunan IKN jadi jembatan untuk wujudkan ekonomi hijau
Baca juga: Airlangga ajak perusahaan Jepang kembangkan "smart city" di IKN
Baca juga: Mewujudkan ekonomi yang merata melalui Ibu Kota Negara

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel