Bappenas Pelajari Pengembangan Sumber Energi Terbarukan China

  • Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    Tempo
    Istana Tolak Akuisisi BTN, Dahlan: Sayang Sekali

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menyayangkan penolakan Istana atas akuisisi Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri. "Sayang sekali sebenarnya. Momentum yang sangat baik tidak bisa kita manfaatkan," kata Dahlan kepada wartawan melalui pesan pendek pada Rabu, 23 April 2014. …

  • Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    Merdeka.com
    Dahlan Iskan melawan SBY dan Dipo Alam

    MERDEKA.COM. Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Sekretaris Kabinet (Setkab) Dipo Alam meminta Menteri BUMN Dahlan Iskan menunda rencana privatisasi PT. Bank Tabungan Negara (BBTN). …

  • Kemendag klaim industri fesyen muslim RI paling ternama di dunia

    Kemendag klaim industri fesyen muslim RI paling ternama di dunia

    Merdeka.com
    Kemendag klaim industri fesyen muslim RI paling ternama di dunia

    MERDEKA.COM. Kementerian Perdagangan mengklaim industri fesyen muslim Indonesia saat ini paling ternama di dunia. Industri sejenis di Malaysia, negara muslim terdekat, dinilai belum mampu menyaingi. …

Beijing (ANTARA) - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mempelajari pengembangan sumber energi terbarukan China, terutama guna mendukung kebutuhan energi listrik baik untuk rumah tangga maupun industri.

Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana dalam pertemuannya dengan Wakil Ketua Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (National Development and Reform commission/NDRC) China Liu Tienan di Beijing, Kamis petang, mengatakan, Indonesia tengah memfokuskan pembangunan sumber energi bersih atau terbarukan yang ramah lingkungan.

"Kami ingin mempelajari berbagai peluang sumber energi terbarukan, termasuk ke China, untuk dapat diterapkan kemungkinannya di Indonesia sesuai potensi sumber daya yang dimiliki," katanya.

Armida mengemukakan sejalan dengan makin baiknya kondisi ekonomi nasional Indonesia, pembangunan di berbagai pun terus meningkat yang membutuhkan energi yang sangat besar, utamanya listrik dan bahan bakar minyak.

"Kebutuhan energi juga sangat diperlukan untuk mendukung makin tingginya kebutuhan energi bagi masyarakat. Mengingat Indonesia juga adalah salah satu negara berpenduduk cukup besar," tuturnya.

Indonesia, lanjut Armida, kini tengah mengembangkan berbagai sumber energi bersih yang berkelanjutan untuk kebutuhan listrik dan BBM. "Semisal untuk listrik kami kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kami tertarik dengan terobosan China yang tengah mengembangkan sumber energi terbarukan dengan memadukan sumber energi terbarukan dengan sumber energi konvensional seperti batu bara dengan tenaga angin," ujarnya.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional (National Development and Reform commission/NDRC) China Liu Tienan mengatakan setelah 30 tahun China melaksanakan reformasi dan pembangunan yang terbuka pertumbuhan dan pembangunan ekonomi semakin meningkat.

"Kegiatan industri dan jumlah penduduk yang sangat besar membutuhkan energi yang besar pula. Sehingga pengembangan energi terbarukan di China juga dilakukan pesat seperti pembangkit listrik tenaga air, tenaga angin, dan matahari," katanya.

Liu Tienan menambahkan,"Kami juga mengembangkan sumber energi biogas, untuk di wilayah-wilayah pendesaan. Kami kembangkan sampah-sampah perkotaan untuk menjadi sumber energi pula. Nuklir juga kami kembangkan,".

Namun, itu pun belum mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat yang memang sangat banyak jumlahnya.

"Ini merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar bagi Pemerintah China. Sehingga kami terus melakukan pengembangan sumber-sumber energi terbarukan dari misalnya mencampur beras dan gandum untuk menghasilkan alkohol, gandum dan ubi dan lainnya. Bahkan kami tengah mengembangkan perbaduan antara sumber energi fosil, konvensional dengan sumber energi terbarukan seperti angin," kata Liu Tienan.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...