Bappenas: Perlu vaksin efikasi tinggi atasi varian Delta COVID-19

·Bacaan 2 menit

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas mengungkapkan vaksin dengan efikasi tinggi diperlukan untuk mengatasi virus varian Delta COVID-19 yang tengah berkembang di Indonesia.

“Efikasi vaksin itu rata-rata berkurang karena adanya varian Delta. Ke depan kita upayakan mendapatkan vaksin yang mempunyai efikasi tinggi,” kata Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Subandi dalam Bincang Santai dengan Media di Jakarta, Kamis.

Subandi menyebutkan vaksin dengan efikasi tinggi tersebut diantaranya adalah vaksin Moderna, Pfizer, Janssen, dan Astrazeneca. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa vaksin lain yang telah disuntikkan ke masyarakat Indonesia bukan berarti tidak bermanfaat karena tetap terbukti efektif mengurangi severity atau hospitalisasi.

“Kita berusaha menggunakan vaksin yang ada dulu karena vaksin yang ada ini mengurangi tingkat keparahan penyakitnya dan keparahan di rumah sakit,” ujar Subandi.

Selain itu, sebagai bagian dari pelaksanaan vaksin yang seluas-luasnya, Bappenas akan terus mendukung riset vaksin untuk mengantisipasi mutasi virus dan ketersediaan vaksin dalam negeri, serta mengontrol penyediaan vaksin untuk mengantisipasi dan transisi menjadi endemi.

Bappenas juga berencana melakukan pengetatan social distancing sampai dengan minimal 77 persen, mengontrol pelaksanaan PPKM dalam menekan mobilitas yang diperketat dan melakukan mandatory universal masking sebagai strategi pengendalian COVID-19 di Indonesia.

“3M dan 2M itu harus dilaksanakan karena kasus di Israel sudah melakukan vaksinasi yang massif tapi mereka menghadapi gelombang ketiga. Masker dengan efikasi yang tinggi menjadi penting dan upaya ini harus tetap dilakukan,” ungkapnya.

Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa tugas utama saat ini adalah mengatasi pandemi agar outlook sasaran pembangunan dan target pertumbuhan ekonomi dapat terwujud.

“Penanganan pandemi tidak saja hanya dengan prokes social distancing dan masker, tetapi harus diiringi dengan program vaksinasi massal,” kata dia.

Menurutnya social distancing dan masker tidak menimbulkan kekebalan tetapi hanya membantu mencegah infeksi sehingga vaksinasi merupakan game changer utama dalam mengatasi pandemi COVID-19 dan mencapai herd immunity.

“Dalam kondisi apapun, vaksinasi merupakan game changer utama yang lebih permanen,” ujar Suharso.

Baca juga: BRIN: Semua vaksin yang dipakai masih berbasis izin edar darurat
Baca juga: BRIN: Izin edar darurat Vaksin Merah Putih ditargetkan medio 2022
Baca juga: Studi: Varian Delta dua kali lipat berisiko rawat inap

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel