Bareskrim Gelar Rekonstruksi Ulang Kasus Pembunuhan Laskar FPI

·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri bersama Kejaksaan Agung melaksanakan rekonstruksi ulang dugaan pembunuhan terhadap empat Laskar FPI di Kilometer 50 Tol Jakarta-Cikampek. Sebab, berkas perkara dua orang tersangka sempat ditolak kejaksaan.

“Proses rekonstruksi bersama JPU pada hari Senin lalu (7 Juni 2021),” kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim, Brigjen Andi Rian Djajadi saat dihubungi wartawan pada Jumat, 11 Juni 2021.

Menurut dia, rekonstruksi dilakukan sesuai permintaan jaksa penuntut umum (JPU) dan secara meluruh untuk menggambarkan TKP I sampai TKP IV. Lalu, Andi mengatakan lokasi yang dipilih juga sudah disepakati oleh JPU yakni di Cikeas, Jawa Barat.

"Rekonstruksi dilakukan berdasarkan permintaan JPU. Lokasi ditetapkan berdasarkan kesepakatan dengan JPU. Di Cikeas," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Tim Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung telah mengembalikan berkas perkara dugaan pembunuhan dengan tersangka anggota polisi yakni FR dan MYO ke Bareskrim Polri pada Selasa, 4 Mei 2021.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan berkas perkara dugaan pembunuhan terhadap empat orang Laskar FPI yang dilakukan dua anggota polisi dinyatakan tidak lengkap pada Jumat, 30 April 2021.

Menurut dia, jaksa peneliti mengembalikan berkas supaya dilengkapi hal-hal yang terdapat kekurangan oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim sesuai petunjuk jaksa.

“Dikembalikan lengkap dengan petunjuk petunjuk dari Jaksa Peneliti, baik kekurangan kelengkapan formil maupun kekurangan kelengkapan materiil, yang dituangkan dalam surat P-19 Nomor: B/1664/E.2/Eoh.1/05/ 2021 tanggal 3 Mei 2021 guna dilengkapi oleh Penyidik,” ujarnya.

Dalam berkas perkara, tersangka disangka Pasal 338 KUHP juncto Pasal 56 KUHP tentang pembunuhan.

Seperti diketahui, sebanyak enam anggota Laskar FPI yang tewas di Tol Jakarta-Cikampek pada 7 Desember 2020. Dua di antaranya tewas dalam baku tembak dengan anggota Polda Metro Jaya.

Sementara, empat lainnya berdasar investigasi Komnas HAM awalnya masih hidup saat diamankan dalam mobil, namun karena diduga melawan petugas lalu keempatnya ditembak hingga tewas.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel