Bareskrim Tarik 2 Laporan di Polda Metro, Kubu Brigadir J: Sesuai Permintaan Kami

Merdeka.com - Merdeka.com - Bareskrim Polri telah memutuskan menarik dua laporan terkait pelecehan seksual dan dugaan percobaan pembunuhan yang ditangani Polda Metro Jaya. Alhasil kini kasus yang ditangani tergabung juga dengan dugaan pembunuhan berencana yang dilaporkan keluarga Brigadir J.

Menanggapi keputusan tersebut, penasehat hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak menilai jika langkah menarik laporan untuk ditangani oleh satu pihak Bareskrim Polri telah sejalan dengan permintaan keluarga Brigadir J.

"Tanggapannya adalah itu permintaan kami kepada para jenderal itu, ketika gelar perkara di Bareskrim Polri. Kami minta waktu itu dalam gelar perkara, supaya ditarik ke Bareskrim Polri demi objektivitas," kata Kamaruddin saat dihubungi wartawan, Senin (1/ 8).

Bahkan menurut Kamaruddin, seharusnya dua laporan yang dilaporkan Irjen Ferdy Sambo itu seharusnya di SP3 alias dihentikan. Sebab Brigadir J telah meninggal dunia, akibat baku tembak.

"Kan yang dilaporkan almarhum. Kan sudah meninggal, berarti sesuai Pasal 77, kan SP 3 dong. Habis mengungkit itu sudah tidak berguna, karena sudah tidak bisa dibuktikan," sebutnya.

Dia pun turut mengkritik atas laporan tersebut yang tetap naik ke tahap penyidikan, namun sosok Brigadir J yang dilaporkan telah tewas

"Seharusnya kalau memang mereka memperkarakan itu, seharusnya jangan dibantai sampai mati, yang benar itu dilumpuhkan untuk diadili. Dengan dia (Brigadir J) ditembak otak dan jantungnya, apa yang mau diadili? Berarti kan mereka tidak mau perkaranya terbuka, karena itu (dugaan pelecehan seksual) hanya ilusi," tuturnya.

Lanjutnya, jika benar dugaan pelecehan seksual itu terjadi, seharusnya Brigadir J tidak ditembak hingga meninggal. Terlebih kejadian itu terjadi di rumah dinas Kadiv Propam Polri nonaktif Irjen Ferdy Sambo.

"Cukup almarhum dilumpuhkan dibawa ke pengadilan untuk diadili toh? Maka bisa terbukti atau tidaknya. Akan tetapi, kalau sudah ditembak dari belakang, pecah otaknya kemudian jantungnya, untuk apa lagi pidana orang mati? Kan gitu," ujarnya.

"Apalagi itu terjadi di rumah dinas Kadiv Propam, di mana dia adalah garda terdepan atau ambassador untuk memperbaiki mental Polri," tambah dia.

Sebelumnya, Mabes Polri mengambil alih dua laporan di Polda Metro Jaya yang dilayangkan pihak Irjen Ferdy Sambo. Dua laporan yang ditarik dari Polda Metro Jaya ke Mabes Polri yaitu terkait dugaan pencabulan, dan kedua adalah percobaan pembunuhan terhadap istri Ferdy Sambo.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Dedi Prasetyo menjelaskan alasannya. Menurutnya, langkah ini agar pengungkapan kasus lebih efektif.

"Untuk efektivitas dan efisiensi manajemen penyidikan dan mempercepat proses pembuktian secara ilmiah (SCI), untuk penyidik (masih) Polda Metro Jaya, (Polres) Jakarta Selatan tetap masuk dalam tim sidik timsus," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (31/7).

Dia menyebut penarikan dua laporan itu dilakukan beberapa hari lalu. "Kemarin atau Jumat malam mas, lupa," singkatnya.

Update Kasus

Sekedar informasi jika kasus baku tembak yang terjadi di rumah singgah Irjen Ferdy Sambo pada Jumat (8/7/2022) pukul 17.00 WIB. Turut melibatkan Brigadir J yang tewas akibat tembakan dari Bharada E.

Adapun baku tembak itu ditengarai adanya dugaan pelecehan yang dilakukan Brigadir J kepada istri Irjen Pol Ferdy Sambo. Untuk saat ini kasus yang ditangani Polda Metro Jaya berkaitan dugaan pelecehan, dan pengancaman serta percobaan pembunuhan terhadap Istri Ferdy Sambo telah ditarik ke Bareskrim Polri

Alhasil, kini Bareskrim Polri turut mengusut tiga kasus dengan tambahan kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J yang dilaporkan kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak. Dimana ketiga kasus ini telah dinyatakan naik penyidikan. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel