Batasi Komunikasi Urusan Pekerjaan, Bisa Cegah Burnout

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Burnout atau kondisi stres akibat pekerjaan berpotensi terjadi pada siapapun. Cepat merasa lelah, kecewa, dan mudah tersinggung bisa jadi beberapa tanda ketika Anda sedang mengalami burnout. Penyebabnya ternyata juga sangat beragam

Survei oleh sebuah perusahaan konsultasi manajemen kinerja asal Amerika Serikat, Gallup mengungkapkan bahwa dari 7.500 karyawan yang menjadi partisipan, 23 persen merasa sangat sering atau selalu kelelahan di tempat kerja. Sementara 44 persen lainnya mengaku merasakan itu sesekali.

"Burnout akan berdampak pada status sosial ekonomi dan jenis karir. Biayanya pun cukup besar karena tidak hanya dapat merusak relasi dan keterlibatan Anda di tempat kerja, namun juga dapat merusak kesehatan," ujar chief science officer Wisdom Labs, Parneet Pal dikutip Health.

World Health Organization (WHO) pun telah menyoroti persoalan burnout sebagai salah satu fenomena dalam dunia kerja dan masuk dalam klasifikasi penyakit internasional terbaru. Mengingat burnout berpotensi memiliki dampak yang cukup besar bagi kehidupan.

Meskipun begitu, terdapat beberapa cara yang masih bisa kita lakukan bersama saat mengalami burnout. Berikut penjelasannya.

1. Ciptakan batasan berkomunikasi

Saat ini, teknologi dinilai mengaburkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan di rumah. Banyak dari kita tetap dapat dihubungi sepanjang waktu. Padahal hal tersebut dinilai berbahaya dan dapat menguras tenaga.

"Komunikasi tanpa henti menyebabkan Anda tidak akan pernah benar-benar rileks. Waktu tanpa gadget, di mana Anda tidak terhubung dengan apapun terkait pekerjaan sangat penting untuk mempertahankan fokus, energi, dan keterlibatan di tempat kerja," ujar psikolog klinis, Doreen Dodgen-Magee.

Doreen menjelaskan, khawatir saat ingin mematikan telepon merupakan hal yang wajar. Namun cobalah untuk membuat batasan-batasan yang jelas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

"Jika Anda merasakan dorongan untuk terus memeriksa pesan atau email di luar jam kerja, tunggu 60 detik, ambil nafas dalam-dalam untuk memicu ketenangan pada sistem saraf. Buatlah zona bebas dari gadget saat di rumah. Nikmatilah waktu di rumah bersama keluarga," ujar Doreen.

2. Hadapi ketidakpastian

Ketidakpastian kerap terjadi dalam dunia kerja. Khawatir akan pekerjaan pun merupakan suatu hal yang wajar, bahkan jika pekerjaan pada bulan tersebut dianggap aman, Anda mungkin gelisah pada apa yang harus dihadapi bulan depan.

"Luangkan waktu untuk memperhatikan dan menikmati momen-momen positif. Bahkan dalam situasi yang menantang seperti itu, hal-hal baik terjadi pada kita setiap hari," ujar psikolog dan penulis Resilient: How to Grow an Unshakable Core of Calm, Strength, and Happiness, Rick Hanson PhD.

Rick menjelaskan bahwa dengan cara-cara sederhana seperti melihat langit indah atau bermain dengan hewan peliharaan dapat membantu Anda agar memiliki suasana hati yang lebih baik.

"Anda mungkin tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sekitar Anda, tapi Anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam pikiran Anda sendiri," ujar Rick.

3. Gunakan waktu dengan bijak

Apabila Anda salah satu dari orang-orang yang memiliki deadline pekerjaan yang tak kunjung henti, kesulitan untuk mengontrol waktu mungkin jadi hal yang akan dihadapi.

"Anda mungkin tidak bisa mengontrol deadline yang terus berdatangan. Tapi kita bisa mengoptimalkan jadwal sehingga bisa menggunakan energi dan waktu secara lebih bijak. Juga, jangan lupakan istirahat. Jalan-jalan, dengarkan musik, atau teleponlah orang tersayang," ujar Parneet.

Infografis

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel