Baterai Smartphone Habis Bisa Bikin Orang Alami Nomophobia, Apa Itu?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mengisi baterai smartphone atau dikenal sebagai mengecas adalah aktivitas wajib bagi pengguna smartphone.

Hal ini karena smartphone jadi perangkat andalan bagi banyak orang untuk menemani aktivitas, mulai dari rapat online, chatting, menonton video, dengar musik, main media sosial, hingga pesan makanan online.

Makin lama melakukan aktivitas dengan smartphone, baterai pun terkuras makin cepat. Bagi orang-orang yang bergantung pada smartphone, baterai habis kadang membuat kepanikan.

Orangpun langsung mencari stop kontak untuk mengisi daya. Jika sedang di luar rumah, powerbank pun jadi andalan untuk mengisi daya.

Berdasarkan hasil riset YouGov Realtime 2019, kekhawatiran pengguna terhadap daya tahan baterai smartphone yang menipis berpotensi menimbulkan kepanikan.

Pada gilirannya, kepanikan ini bisa mengakibatkan Nomophobia (No mobile phone phobia) atau rasa khawatir secara berlebihan ketika menjalani hidup tanpa gawai.

Takut Tak Bisa Dihubungi

Ilustrasi Aplikasi Smartphone. Thomas Ulrich via Pixabay
Ilustrasi Aplikasi Smartphone. Thomas Ulrich via Pixabay

Ketika berada di situasi seperti ini, para pengguna smartphone khususnya kalangan milenial merasa ketakutan saat tak bisa dihubungi oleh orang-orang penting, tidak bisa ikut rapat online, dan sejumlah ketakutan lainnya.

Apalagi di tengah situasi pandemi seperti saat ini, pengguna kian bergantung pada keberadaan smartphone.

Untuk itulah, vendor beberapa vendor smartphone mengembangkan sebuah algoritma khusus yang berfokus pada daya tahan baterai.

Teknologi Baterai di Oppo Reno4 Series

Oppo Reno4 F, isi boks (Liputan6.com/ Agustin Setyo W)
Oppo Reno4 F, isi boks (Liputan6.com/ Agustin Setyo W)

Misalnya Oppo lewat perangkat Reno4 dan Reno4 F yang dilengkapi fitur Super Power Saving Mode untuk melakukan penghematan terhadap daya tahan baterai tersisa.

Dengan fitur ini, Oppo mengklaim saat baterai tersisa 5 persen, perangkat dapat bertahan untuk memberikan daya terhadap aplikasi-aplikasi penting yang telah dipilih pengguna.

Menurut Oppo, dengan persentase 5 persen, perangkat bisa dipakai 77 menit untuk memakai Grab, 70 menit dipakai menelepon, 52 menit untuk bernavigasi Google Maps, dan 35 menit ketika dipakai untuk WhatsApp.

Untuk mengaktifkannya, pengguna dapat masuk ke menu Pengaturan atau Settings. Selanjutnya, pilih opsi Battery dan mengaktifkan fitur Super Power Saving Mode.

Di Smartphone Samsung dan Huawei

Galaxy S20 FE Cloud Mint (Foto: Samsung Indonesia)
Galaxy S20 FE Cloud Mint (Foto: Samsung Indonesia)

Fitur serupa pun rata-rata sudah ada di smartphone Android lainnya. Samsung misalnya, memiliki fitur bernama Power Mode untuk menentukan pengaturan penggunaan baterai di perangkat. Jika memilih perangkat bekerja pada performa tinggi baterai akan lebih cepat habis.

Sementara ketika memilih Maximum Power Saving, baterai akan dihemat sedemikian rupa, namun tentu mengorbankan performa smartphone. Misalnya fitur Always on Display tidak aktif dan kinerja CPU diturunkan hingga 70 persen, juga dengan tingkat kecerahan yang minimum.

Sedangkan di Huawei, fitur serupa ada di menu Optimizer. Pengguna pun bisa memilih penggunaan baterai.

Menggunakan prinsip serupa, ada tiga opsi yang ditawarkan, yakni Performance Mode (mengutamakan performa smartphone tapi boros daya), Power Saving Mode (peforma perangkat diturunkan untuk menghemat baterai), dan Ultra Power Saving Mode (hanya ada beberapa aplikasi yang bisa dijalankan guna menghemat penggunaan daya hingga level maksimal).

(Tin/Isk)