Batu Bertulis dari Jambi, Diduga Prasasti

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI-- Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Merangin menyatakan masih memerlukan keterlibatan para ahli untuk meneliti temuan batu oleh warga yang diduga prasasti berhuruf Pallawa di Desa Pulau Bayur.

"Kita belum bisa mengatakan batu itu prasasti atau bukan, sebab setelah kita tinjau kondisi batu tersebut sudah tidak terlalu jelas lagi karena tertutup lumut dan dilapukkan usia serta cuaca," kata Koordinator Tim Ekspedisi Peninjau M Fredy saat dihubungi di Merangin, Rabu.

Ia mengaku adanya guratan menyerupai aksara dan simbol tertentu, tapi tidak bisa memastikan apakah aksara Pallawa atau aksara lain atau hanya guran alam, karena itu perlu keterlibatan ahli untuk menelitinya. Fredy mengaku pihaknya langsung bergerak cepat mengirim tim ekspedisi guna meninjau langsung ke lapangan saat menerima laporan tentang temuan prasasti dan gugusan goa yang diduga benteng oleh warga Pulau Bayur tersebut.

Namun pihaknya belum bisa menyimpulkan perihal batu yang diduga prasasti tersebut. "Kondisi batunya sudah tidak baik lagi, batu tersebut berada di bibir sebuah tebing setinggi 10 meter Sungai Batang Merangin. Menurut warga, penemu pertama keberadaan batu tersebut bernama Tarmizi," katanya.

Sebenarnaya, sebelumnya ada dua batu yang punya guratan seperti aksara itu, tapi salah satu batu telah jatuh ke sungai dalam keadaan terbalik, sebenarnya di batu yang jatuh ke sungai itulah yang guratan aksaranya masih terlihat lebih jelas.

Sepintas, guratan aksara di batu setinggi anak delapan tahun yang sudah tidak terlalu jelas tersebut tidak terlihat seperti aksara Pallawa, justeru lebih terkesan seperti aksara Incoung Kerinci. Selain guratan masih terlihat agak jelas dua macam simbol.

"Kedua macam simbol tersebut simbol cakaran tiga jari harimau dan simbol seperti panah di sebelah kiri dan kanan guratan mirip aksara, yang satu seakan menunjuk ke timur yang lainnya ke barat. Kita tak bisa menterjemahkan atau meraba makna dari guratan-guratan tersebut," ujar Fredy.

Meskipun belum bisa menyimpulkan apakah batu tersebut adalah prasasti atau bukan, namun pihaknya tetap akan melaporkan temuan warga tersebut kepada Pemkab Merangin dan Disbudpar Provinsi serta BP3. "Kita akan melaporkan temuan ini, sekaligus mengharapkan dikirimkannya ahli untuk meneliti lebih lanjut keberadaan batu tersebut. Hal tersebut dinilai sangat penting agar tidak menimbulkan salah persepsi di mata publik yang saat ini telah terlanjur mengetahui tentang batu yang diduga prasasti tersebut," tambahnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.