Batu Sandungan Taliban

·Bacaan 5 menit

VIVA – Ketakutan terburuk dari kericuhan yang terjadi di Kabul Afghanistan menjadi kenyataan. Dua aksi bom bunuh diri meledak di dekat Bandara Hamid Karzai, Kabul pada Kamis, 26 Agustus 2021. Setidaknya 169 warga sipildan 13 tentara AS dilaporkan tewas dalam serangan bom tersebut. Sementara ratusan orang lainnya luka-luka.

Serangan mematikan itu terjadi di tengah upaya evakuasi sekitar 100.000 orang telah diterbangkan dari Bandara Kabul selama dua minggu terakhir, menyusul jatuhnya ibu kota ke tangan Taliban.

Presiden AS Joe Biden menegaskan tidak akan menghentikan misi evakuasi warga sipil di Afghanistan, sekalipun diguncang teror bom. Ia juga akan tetap menaati tenggat penarikan pasukannya dari Afghanistan mulai 31 Agustus.

"Kami tidak akan terhalang oleh teroris. Kami tidak akan membiarkan mereka menghentikan misi kami. Kami akan melanjutkan evakuasi," kata Presiden AS Joe Biden dari Gedung Putih pada 26 Agustus 2021, dilansir New York Post.

Intelijen AS dan sekutu sebelumnya sudah memperingatkan potensi serangan teror di Bandara Kabul beberapa jam sebelum ledakan. Termasuk kekhawatiran kelompok teroris yang menunggangi kericuhan yang terjadi di Bandara Kabul sepekan sebelumnya.

Presiden Joe Biden menyebut gerilyawan ISIS-K berada di balik teror bom di dekat Bandara Kabul, Afghanistan. ISIS-K adalah kependekan dari ISIS Khorasan, kelompok teroris yang dibentuk pada akhir 2014 dan beroperasi sebagai afiliasi ISIS di Afghanistan dan Pakistan.

Khorasan adalah nama wilayah yang mencakup Afghanistan, dan sebagian Timur Tengah dan Asia Tengah. Kelompok ini juga dikenal sebagai ISIS-K atau IS-K.

"Kepada mereka yang melakukan serangan ini, serta siapa pun yang ingin membahayakan Amerika, ketahuilah ini: Kami tidak akan memaafkan. Kami tidak akan lupa. Kami akan memburu Anda dan membuat Anda membayar. Kami akan merespons dengan kekuatan dan ketepatan pada waktu dan tempat yang kami pilih dan saat yang kami pilih," tegas Biden.

Beberapa saat setelah teror bom di Bandara Kabul, ISIS pun mengaku bertanggung jawab atas serangan bom tersebut. Kelompok teror itu bahkan merilis gambar salah satu pelaku bom bunuh diri, yang diidentifikasi sebagai Abdul Rehman Al-Loghri.

ISIS mengatakan pelaku bom bunuh diri berada dalam jarak lima meter dari pasukan AS yang sedang mengumpulkan dokumen dari warga yang mengantre untuk dievakuasi keluar Afghanistan. 13 anggota layanan AS tewas, termasuk 12 Marinir dan satu petugas medis Angkatan Laut.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan satu ledakan pertama terjadi di dekat bus yang berbaris di luar Abbey Gate dan kedua berada di dekat dengan Baron Hotel yang berada tak jauh dari bandara.

Salah satu pembom dilaporkan menabrak orang-orang yang berdiri di saluran air limbah, dan seketika mayat korban bergelimpangan. Sebagian warga yang antre di sekitarnya mengalami luka parah dan dievakuasi ke ambulans.

Dalam aksi teror ini, pelaku diduga menggunakan rompi berisi bom bunuh diri. Titik lokasi diduga terjadi di Gerbang Biara yang menuju bandara. Saat itu, pasukan AS sedang bertugas sedang menyaring warga sipil Afghanistan yang mau masuk ke bandara.

Komandan Komando Pusat AS, Jenderal Korps Marinir Kenneth McKenzie Jr mengatakan usai bom meledak, sejumlah orang bersenjata dari kelompok ISIS juga menembaki massa.

Serangan kelompok ISIS-K Afghanistan merupakan serangan teror pertama pasca jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban. Thomas S. Warrick, mantan pejabat kontraterorisme di Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, menyebut serangan ini merupakan konflik tentang siapa yang berhak mengklaim penghargaan karena memaksa Amerika keluar dari Afghanistan.

"Ada perang propaganda yang sekarang sedang berlangsung di antara teroris dan ekstremis yang mencoba mengklaim kemenangan atas Amerika Serikat," Tom dilansir Atlanticcouncil.

Serangan itu menunjukkan bahwa ISIS-K akan menantang kekuasaan Taliban di Afghanistan dan juga akan menjadi batu sandungan, karena terus menimbulkan tantangan kontraterorisme eksternal di tahun-tahun mendatang.

"Kemungkinan muncul sebagai pesaing lokal bagi sekutu Taliban, al-Qaeda," kata Direktur Program Pusat dan Timur Tengah Rafik Hariri dan mantan wakil asisten menteri pertahanan AS, William F. Wechsler.

"ISIS-K akan menganggap serangannya lebih berhasil jika menghasilkan konflik militer baru antara dua musuhnya, AS dan Taliban," tambahnya.

Will berpendapat bahwa serangan itu menimbulkan pertanyaan baru tentang strategi kontraterorisme AS pasca-penarikan pasukan. Pendekatan itu memerlukan jarak fisik dari target dan bekerja sama dengan mitra di lapangan. Itu bisa berarti mengoordinasikan operasi kontraterorisme AS dengan Taliban.



Musuh Taliban

Relasi kelompok ISIS-K dengan Taliban sebenarnya pada posisi yang saling bermusuham satu sama lain, musuh, seperti yang dicatat Biden dalam pidatonya yang disiarkan televisi pada hari Kamis. Sejak didirikan, afiliasi ISIS telah berselisih dengan Taliban, yang sekarang menguasai Afghanistan.

"ISIS-K adalah musuh bebuyutan Taliban, dan mereka memiliki sejarah pertempuran antara satu sama lain," kata Biden.

Lebih jauh, peneliti Afghanistan dari Center for Strategic and International Studies, Seth Jones menyebut kelompok ISIS-K berambisi menguasai dunia dengan khilafah. "Tujuan mereka sebenarnya adalah khilafah Islam, dan mereka adalah pesaing al-Qaida dan Taliban," kata Jones

Banyak gerilyawan Taliban membelot untuk bergabung dengan afiliasi ISIS, dan kedua kelompok itu memperebutkan sumber daya dan wilayah. Perbedaan mereka juga ideologis, menurut pusat Stanford.

"Permusuhan antara kedua kelompok muncul baik dari perbedaan ideologis dan persaingan untuk sumber daya. IS-K menuduh Taliban menarik legitimasinya dari basis etnis dan nasionalistik, daripada keyakinan Islam universal," kata pusat itu.

Seperti yang dilaporkan The Associated Press, ketika Taliban berusaha untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, banyak dari mereka yang menentang negosiasi dan beralih ke Negara Islam yang lebih ekstrimis.

Taliban mengutuk ledakan di luar bandara Kabul, Kamis kemarin, dan mereka berdalih wilayah terjadinya serangan bom di luar kendali mereka. Sebaliknya berada di wilayah kendali militer AS.

Presiden AS Joe Biden telah memerintahkan militernya untuk melakukan pengembangan rencana operasional untuk menyerang kelompok ISIS-K. Ia menegaskan akan membalas teror yang dilakukan oleh siapa pun yang ingin membahayakan Amerika Serikat.

"Kami tidak akan memaafkan. Kami tidak akan lupa. Kami akan memburu Anda dan membuat Anda membayar semuanya. Kami akan merespons dengan kekuatan dan ketepatan pada waktu dan tempat yang kami pilih dan saat yang kami pilih," tegasnya

Selain itu, Biden juga mengingatkan Taliban soal kelompok teroris dibalik serangan teror dekat Bandara Kabul. "Adalah kepentingan Taliban bahwa ISIS-K tidak bermetastasis (menyebar)," sambungnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel