Bawaslu Telusuri Dugaan Politik Uang Bantuan "Marbot"

Mataram (ANTARA) - Badan Pengawas Pemilu NTB akan menelusuri dugaan politik uang terkait bantuan untuk "marbot" (marbut) atau penjaga dan pengurus masjid dari pemerintah provinsi yang diserahkan menjelang kampanye Pemilihan Kepala Daerah Gubernur/Wakil Gubernur 2013.

"Kami akan menelusuri laporan masyarakat mengenai bantuan untuk 7.000 orang marbot sebesar Rp7 miliar masing-masing Rp1 juta per orang yang diserahkan menjelang kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada), apakah itu bisa dikategorikan politik uang," kata Ketua Bawaslu Nusa Tenggara Barat (NTB) M Khuwailid di Mataram, Jumat.

Ia mengatakan, unsur dari politik uang adalah menjanjikan atau memberikan sesuatu agar penerima bantuan memilih atau tidak memilih calon tertentu. Karena itu perlu ditelusuri apakah pemberian bantuan itu ada kaitannya dengan permintaan untuk memilih calon tertentu.

"Jadi kita harus membuktikan seperti apa fakta di lapangan pada saat pemberian bantuan itu. Apakah memenuhi unsur politik uang, yakni menjanjikan atau memberikan sesuatu agar penerima bantuan memilih calon tertentu pada pilkada," katanya.

Masalah ini ada kaitannya dengan pernyataan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Adnan Pandu Praja pada saat deklarasi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), yang menyatakan jangan sampai dana pada pos bantuan sosial dimanfaatkan pada saat berlangsungnya kampanye.

Kalau Bawaslu tidak mampu menjangkau itu, kata Khuwailid, maka institusi lain harus mengambilalih penanganan masalah tersebut untuk mengungkap apakah ada maksud tertentu dalam pemberian bantuan marbot itu.

Juru bicara Pemerintah Provinsi NTB Tri Budi Prayitno mengakui beberapa waktu lalu telah diserahkan bantuan untuk 5.500 orang (bukan 7.000 orang, red.) marbot masing-masing Rp1 juta, namun itu tidak ada kaitannya dengan pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

"Bantuan untuk para marbot itu merupakan program pemerintah provinsi yang telah dilaksanakan dalam dua tahun terakhir. Bantuan itu semata-mata untuk balas jasa para marbot yang telah mengurus masjid agar umat Islam merasa nyaman melaksanakan ibadah," kata Tri yang juga Kabag Humas Setda NTB.

Menurut dia, nilai bantuan masing-masing Rp1 juta itu relatif kecil dibandingkan dengan pengabdian para marbot dalam mengurus masjid setiap hari, mulai dari membersihkan dan menyiapkan air untuk berwuduk hingga melaksanakan adzan pada setiap tiba waktu shalat.

"Kebetulan tahun ini bantuan itu diserahkan menjelang pilkada, sehingga memunculkan dugaan bahwa bantuan itu dikait-kaitkan dengan politik dan ini sulit dihindari. Kami memastikan bahwa itu tidak ada kaitannya dengan politik," katanya.

Dia mengatakan, pada marbot yang mendapat bantuan itu dari berbagai golongan dan tidak dilihat latar belakang politiknya.(rr)



Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.