Bayang-Bayang Kelam Masa Lalu Menghantui Proses Perdamaian di Myanmar

·Bacaan 4 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemimpin junta militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing dua hari lalu menawarkan pertemuan dengan para pemimpin kelompok etnis bersenjata untuk mengakhiri konflik. Namun tawaran junta itu mendapat tanggapan beragam dari kelompok etnis bersenjata yang mengatakan sejak dulu militer kerap ingkar janji.

"Saya sudah mengatakan 2022 adalah tahun perdamaian dan kami akan berupaya untuk mengakhiri semua konflik bersenjata di negara ini," kata Min Aung dalam sebuah pidato yang disiarkan stasiun televisi pemerintah, seperti dilansir Radio Free Asia, Jumat (22/4).

"Saya menyerukan kepada para pemimpin kelompok etnis bersenjata untuk bertemu dan berunding karena perdamaian harus diwujudkan dalam praktik. Saya sendiri akan bertemu langsung dengan semua kelompok dan kemudian perundingan bisa dilakukan dengan delegasi yang anggotanya dari junta."

Min Aung Hlaing mengajukan pertemuan ini diikuti oleh masing-masing pemimpin kelompok etnis bersenjata dan dua orang letnan mereka--nama-nama mereka akan diajukan hingga 9 Mei nanti. Dia mengatakan tanggal perundingan akan ditentukan setelah pertemuan awal.

Wakil Menteri Penerangan Junta Mayor jenderal Zaw Min Tun mengatakan kepada RFA, rezim militer akan bertanggung jawab atas keselamatan mereka yang hadir dalam pertemuan nanti.

"Kami menjamin keselamatan semua orang yang akan datang ke perundingan dan junta akan memilih mereka jika mereka merasa tidak nyaman dan membawa mereka ke pertemuan."

Selain itu dia juga mengatakan China sudah setuju untuk membantu menjadi perantara proses perundingan dan junta bersedia bekerja sama dengan semua pihak berkepentingan.

Kolonel Khun Okkar, pemimpin dari Organisasi Pembebasan Nasional Pa-O (PNLO) mengatakan kepada RFA, dia yakin junta bertekad bekerja untuk perdamaian menjelang pemilihan umum dan menyebut Min Aung Hlaing mengajukan pertemuan ini untuk "menertibkan negara."

bayang-bayang kelam masa lalu menghantui proses perdamaian di myanmar
bayang-bayang kelam masa lalu menghantui proses perdamaian di myanmar

Pada peristiwa kudeta 1 Februari 2021, Min Aung Hlaing berjanji menggelar pemilu dalam waktu setahun tapi dia kemudian memundurkan jadwal itu hingga Agustus 2023. Yang teranyar dia mengatakan, junta sudah memutuskan pemilu hanya akan digelar jika ada stabilitas di dalam negara.

Khun Okkar menuturkan, dengan menawarkan perundingan di televisi, Min Aung Hlaing tampaknya ingin mempersingkat persyaratan untuk dimulainya perundingan.

"Terlalu banyak sentralisasi. Ada banyak prosedur dan terkadang ini tidak tercapai pada waktunya," kata dia.

"Tampaknya dia ingin lebih efektif ketika dia mengatakan akan menanganinya sendiri. Waktunya kian menipis dan dia perlu waktu untuk mempersiapkan pemilu. Saya rasa dia ingin segera melakukan perundingan secepat mungkin."

Padoh Saw Tawney, pejabat urusan luar negeri dari Serikat Nasional Karen (KNU) mengatakan, pengalaman di masa lalu membuat proses perundingan meragukan bagi mereka terkait taktik militer.

"Kami tidak pernah menolak perdamaian, tapi perdamaian tidak bisa dicapai hanya lewat kata-kata. Jadi kami ingin mereka memperlihatkan fakta sebenarnya dan tindakan yang bisa membawa perdamaian," kata dia.

"Tanpa semua ini, kami tidak bisa menerima tawaran itu--bahkan jika dia sendiri yang ingin bertemu langsung. Kami sudah mengikuti proses pembicaraan damai sebelumnya dan kami tahu setiap tipu daya mereka. Jadi tidak aka ada perdamaian tanpa persyaratan dari kami," kata dia tanpa merinci apa syarat-syarat itu.

Sai Kyi Zin Soe, pengamat politik Myanmar, menyebut upaya Min Aung Hlaing menyerukan perdamaian itu "percuma" dan itu hanya strategi politik untuk menghindari tekanan internasional atas kebrutalan junta terhadap musuh mereka. Menurut kelompok pembela hak asasi, aparat keamanan Myanmar sudah membunuh 1.782 warga sipil dan menangkap hampir 103.000 orang sejak kudeta, terutama ketika unjuk rasa anti-junta terjadi.

bayang-bayang kelam masa lalu menghantui proses perdamaian di myanmar
bayang-bayang kelam masa lalu menghantui proses perdamaian di myanmar

Pembicaraan damai yang pantas tidak bisa dilakukan tanpa melibatkan semua pihak yang berkepentingan, kata Sai Kyi Zin Soe, dan juga harus mengikutsertakan Pemerintahan Serikat Nasional (NUG), Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF), dan barisan pasukan oposisi lainnya. Junta selama ini menolak melakukan pembicaraan damai dengan mereka dan menuduh mereka sebagai pelaku terorisme.

"Tidak mengikutsertakan kelompok-kelompok di luar etnis bersenjata memperlihatkan tawaran itu hanyalah karena tekanan dari China atau ASEAN di tengah kritik internasional ketimbang tulus dari keinginan untuk berdamai yang sebenarnya."

Ye Tun, mantan anggota parlemen di Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) mengatakan dia meyakini Min Aung Hlaing sebetulnya hanya ingin "kelompok etnis bersenjata itu semua terpantau" sampai akhirnya dia akan menghabisi PDF dan kelompok oposisi bersenjata lainnya.

Kelompok etnis bersenjata memerangi militer Myanmar sejak negara itu merdeka pada 1948. Selepas kudeta, sejumlah kelompok mendukung para penentang junta dan yang lainnya bergabung dengan pasukan bersenjata untuk melawan militer.

Hanya ada 10 kelompok etnis bersenjata yang menandatangani Kesepakatan Nasional Gencatan Senjata dengan pemerintah sejak 2015, ketika perjanjian itu ditetapkan di depan para pengamat internasional dan parlemen tertinggi Myanmar.

Sepuluh kelompok itu mengatakan kesepakatan gencatan senjata masih berlaku meski proses perdamaian sudah mengalami kegagalan dan hancur lantaran kudeta militer oleh junta. Namun mereka mengatakan tidak akan ngotot mengejar pembicaraan damai dengan militer, pihak yang mereka anggap merampas kekuasaan dari pemerintahan demokratis yang terpilih lewat pemilu. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel