Bayi Gajah dengan Belalai Nyaris Putus di Indonesia Jadi Sorotan Media Asing

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Aceh - Kasus anak gajah malang yang terkena jerat di kawasan hutan Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh jadi sorotan media asing. Malang, usai dua hari menjalani perawatan medis di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, anak gajah Sumatra (Elephas Maxipmus Sumatrensis) yang belalainya nyaris putus terkena jerat, akhirnya mati.

Padahal sebelumnya, luka-lukanya telah diobati dan belalainya telah diamputasi. Kondisi bayi gajah pun sempat dilaporkan berangsur membaik.

Media Amerika Serikat, Washington Post, melalui artikel bertajuk Indonesia baby elephant dies after losing half of her trunk mengangkat kasus tersebut.

"Seekor bayi gajah di Pulau Sumatra, Indonesia, mati pada hari Selasa setelah kehilangan separuh belalainya karena jebakan yang dibuat oleh pemburu yang memangsa spesies yang terancam punah itu, kata pihak bewenang, meskipun ada upaya untuk mengamputasi dan mengobati luka-lukanya," tulis media dari Amerika itu yang dikutip Rabu (17/11/2021).

Associated Press, yang juga dari Amerika turut mengulasnya dalam judul tulisan serupa.

Media Irlandia, Irish Examiner melalui tulisan Baby elephant in Indonesia dies after losing half of trunk to poachers’ trap mengutuk para pelaku yang tega membuat anak gajah itu menderita. "Seekor bayi gajah di pulau Sumatera Indonesia telah mati setelah kehilangan setengah belalainya karena jebakan yang dibuat oleh pemburu liar," tulis media tersebut mengutip pihak berwenang.

Dari Asia, media China, SCMP, turut mengulas dampak kekejaman para pemburu gajah dengan artikel Indonesian baby elephant dies after losing half its trunk due to poaching trap.

Sementara itu, Baby elephant in Indonesia dies after losing half of trunk to poachers’ trap menjadi tajuk ulasan mengenai kisah malang bayi gajah di Banda Aceh itu yang dimuat media Turki, Daily Sabah.

Saluran berita bahasa Inggris yang paling banyak ditonton di India, Republic World, tak ketinggalan dengan isu tersebut. Menyoroti usia muda hewan tersebut melalui tulisan Indonesia: 1-year-old Sumatran Elephant Dies After Losing Half Of Her Trunk.

Kisah tragis bayi gajah dengan belalai hampir putus itu juga disorot media asing Taiwan News, yang ikut mengangkat dengan artikel bertajuk serupa Associated Press.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sepenggal Kisah Sebelum Bayi Gajah Korban Jerat Pemburu Mati

Usai dua hari menjalani perawatan medis, anak gajah Sumatra yang belalainya nyaris putus terkena jerat, akhirnya mati. (Liputan6.com/ BKSDA Aceh))
Usai dua hari menjalani perawatan medis, anak gajah Sumatra yang belalainya nyaris putus terkena jerat, akhirnya mati. (Liputan6.com/ BKSDA Aceh))

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Agus Ariyanto, di Banda Aceh mengatakan pada Selasa (16/11/2021), anak gajah sumatra berusia sekitar satu tahun tersebut mati saat dalam proses perawatan medis, dengan kondisi belalai yang nyaris putus akibat terkena jeratan.

Anak gajah itu dibawa ke PLG Saree pada Minggu (14/11) lalu, dengan kondisi belalai yang berfungsi sebagai tangan nyaris putus, sehingga membuat gajah susah makan dan kondisi tubuh juga kurus.

BKSDA Aceh membawa ke PLG Saree dengan harapan anak gajah tersebut bisa tertangani dengan baik.

"Jadi belalainya sudah membusuk, nyaris putus. Makanya kita bawa ke sana untuk penanganan medis. Katanya dua hari ini kondisinya cukup bagus, cuma penyebaran infeksinya itu, karena kan sudah lama (terjerat)," kata Agus.

Sebelumnya pada hari Minggu, Agus mengatakan pihaknya menerima informasi dari masyarakat pada Sabtu (13/11), terlihat seekor anak gajah bergerak sendiri (terpisah dari rombongan) dengan kondisi terluka di bagian belalai dan terlihat sisa jerat yang masih menempel di bagian belalai di wilayah Desa Alue Meuraksa, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya.

Tim yang terdiri dari personel BKSDA Aceh, personel medis, Resort Aceh Jaya dan CRU Sampoiniet, BKPH Teunom-KPH I, CRU Aceh, PKSL FKH-USK, serta masyarakat waktu itu langsung melakukan upaya pencarian dalam rangka penyelamatan anak gajah liar tersebut.

Menurut dia anak gajah tersebut baru ditemukan pada Minggu, (14/11) sekitar pukul 14.00 WIB di wilayah Desa Alue Meuraksa.

"Tim berhasil menemukan anak gajah liar tersebut dan melakukan upaya pembiusan untuk dapat dilakukan penanganan medis dan pelepasan jerat yang masih menempel di belalainya," kata Agus.

Hasil observasi tim medis diketahui bahwa anak gajah liar dengan jenis kelamin betina berusia sekitar 1 tahun mengalami luka serius akibat terkena jerat pada bagian tengah belalai yang diperkirakan luka tersebut sudah berlangsung lama.

"Berdasarkan pertimbangan tim medis bahwa anak gajah liar perlu mendapatkan perawatan medis lanjutan dan harus dievakuasi ke PLG Saree, Aceh Besar," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel