Baznas dampingi Dedi sukses rintis usaha laundry

Kendati menyandang tunanetra, tunarungu hingga kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19, tidak membuat Dedi warga Sawahlunto, Sumatera Barat patah arang untuk terus berjuang mencari nafkah guna menghidupi keluarganya.

Dedi semula merupakan agen angkutan umum di Terminal Sawahlunto. Namun, akibat pandemi COVID-19 yang menerpa Tanah Air pada 2020 membuatnya tak bisa lagi mencari nafkah di terminal. Mobilitas masyarakat di terminal pada masa pandemi sangat berkurang.

Setelah kehilangan pekerjaan ia pun sempat bekerja pada sebuah proyek bangunan namun tidak berlangsung lama karena pekerjaan telah habis.

Setelah pekerjaan proyek bangunan itu usai, Dedi sempat kesulitan mencari biaya hidup hingga harus berutang ke tetangga dan saudaranya. Bahkan, Dedi dan keluarganya sempat tidak makan karena tidak ada lagi beras yang hendak dimasak.

Namun itu dulu, kini kehidupan Dedi dan keluarganya berubah setelah mendirikan usaha jasa cuci dan setrika atau laundry yang dimodali oleh Baznas Sawahlunto.

Perubahan terjadi begitu nyata dalam hidup pria paruh baya yang dulu kerap minta bantuan dan berutang kepada tetangga sekitar untuk makan dan memenuhi kebutuhan harian. Ia kini bahkan bisa menyisihkan pendapatannya dari usaha laundry untuk bersedekah.

Dulu, menurut salah seorang ASN Pemkot Sawahlunto, Ahmad Zaini, yang merupakan tetangga dekat Dedi menceritakan Dedi pernah sampai tidak makan hampir sehari semalam karena tidak ada beras dan lauk untuk dimasak.

Ahmad ingat betul, suatu pagi Dedi datang dengan bibir pucat dan mata merah ke rumahnya. Ketika ditanyai Dedi mengaku anak-anaknya di rumah menangis karena kelaparan sudah sehari semalam tidak makan. Akhirnya pada hari itu Ahmad memberikan beras sekarung dan uang Rp100 ribu untuk membeli lauk.

Setelah itu, Ahmad berpikir, bagaimana untuk membantu Dedi dan keluarganya dalam jangka panjang. Ia pun mencoba berdiskusi dengan Baznas Sawahlunto dan mendapat tanggapan baik. Setelah dikaji, Dedi masuk dalam kriteria asnaf atau umat Islam yang berhak memperoleh zakat, sehingga Baznas bersedia membantu permodalan usaha bagi Dedi.

Karena istri Dedi yaitu Yurda Nelis juga penyandang tuna wicara dan tuna rungu yang sehari-hari bekerja membantu menyetrika dari rumah ke rumah, maka disepakati usaha yang akan dijalankan Dedi bersama istri adalah jasa cuci dan setrika atau laundry.

Setelah tahapan memasukkan berkas administrasi rampung, kemudian tim verifikasi faktual Baznas datang meninjau ke rumah.

Melihat kesediaan dan kesungguhan Dedi untuk menjalankan usaha laundry tersebut, ia pun lolos menjadi mustahik penerima bantuan modal usaha.

Ketua Baznas Kota Sawahlunto, Edrizon Effendi, menyebutkan bantuan modal usaha diberikan kepada Dedi sebesar Rp3 juta rupiah pada September 2021 . Uang itu dibelikan peralatan untuk usaha laundry, yaitu mesin cuci sembilan kilogram , setrika dan timbangan serta sejumlah perlengkapan lain.

Dedi mulai membuka usaha laundry dengan nama Zulpin di Kelurahan Kubang Sirakuk Selatan, Kecamatan Lembah Segar, Sawahlunto. Dedi bersama sang istri menjalankan usaha itu dengan baik, penuh komitmen, gigih dan tekun. Hasil cuci dan setrika pakaiannya pun bersih, rapi dan wangi, tidak heran pelanggan pun puas.

Untuk soal tarif, Dedi mematok harga yang terjangkau yakni Rp5 ribu per kilogram untuk jasa cuci dan gosok serta Rp3 ribu saja untuk jasa setrika.

Tak hanya itu, Dedi pun memberikan pelayanan ekstra bagi pelanggan yaitu dengan bersedia mengantar dan menjemput pakaian yang akan dicuci dan digosok.

Karena hasil pekerjaannya berkualitas, pelanggan laundry Zulpin yang dijalankan Dedi terus bertambah. Setiap hari jumlah kain yang harus dicuci maupun disetrika semakin banyak. Bahkan, pada saat ramai dalam sehari bisa sampai di atas 100 kilogram.

Baznas Kota Sawahlunto pun terus melakukan monitoring terhadap usaha Dedi serta melihat kemungkinan mesin cuci yang dipakai cepat rusak karena tingginya volume kain yang harus dicuci setiap harinya.

Pihak Baznas mengambil kebijakan untuk melanjutkan memberi bantuan pengembangan usaha bagi Dedi. Baznas dalam rapat pleno membahas mengenai bantuan berikutnya. Sebab, sesuai prosedur bantuan berikutnya baru boleh diberikan lagi setelah jeda waktu tiga tahun dari bantuan pertama kali diserahkan.

Namun, karena dibutuhkan dan Dedi telah menunjukkan komitmennya dalam menjalankan usaha dengan baik, Baznas sepakat memberi bantuan tahap dua.

Bantuan kedua dari Baznas diserahkan pada Dedi pada Juli 2022 sebesar Rp6 juta.Uang tersebut langsung dibelikan mesin cuci 14 kilogram , setrika uap dan rak untuk meletakkan paka yang telah selesai dibungkus.

Kini usaha cuci dan setrika yang dijalankan Dedi itu semakin berkembang dan pelanggan terus bertambah. Dedi kini setiap hari bisa menyisihkan sebagian dari keuntungan usahanya untuk menabung dan bersedekah. Sedekah dari Dedi dikumpulkan di kotak infak yang secara berkala dijemput oleh pihak Baznas.

Sementara untuk tabungannya sudah mencapai jutaan rupiah. Pencapaian yang luar biasa dibandingkan saat Dedi kesulitan makan dan berutang kesana kemari.

Tetangga dekatnya Ahmad menyampaikan sejak menjalankan usaha laundry , Dedi pun tidak pernah lagi mendatanginya untuk meminta bantuan makan, membayar air, listrik, kontrakan rumah maupun biaya sekolah anak-anaknya.

Dedi saat ini memiliki tiga orang anak yang masih menempuh pendidikan di SD, yakni atas nama Pipin, Zahwa dan Riskon.

Dedi dan istri mengepak pakaian pelanggan. (Antara/Yudha Ahada)
Dedi dan istri mengepak pakaian pelanggan. (Antara/Yudha Ahada)

Contoh Keberhasilan

Ketua Baznas Kota Sawahlunto, Edrizon Effendi, menyampaikan bahwa Dedi adalah salah satu contoh keberhasilan program bantuan modal usaha dari Baznas.

Baznas menyalurkan zakat kepada mustahik dalam beberapa kategori, salah satunya bantuan modal usaha. Hingga saat ini sudah banyak mustahik yang berhasil membuat dan mengembangkan usaha dengan modal dari Baznas, termasuk Dedi.

Ia berharap keberhasilan Dedi dalam menjalankan usahanya dengan modal dari Baznas dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi mustahik lain yang juga memperoleh bantuan modal usaha.

Berdasarkan temuan, ada mustahik yang setelah menerima modal usaha bukan digunakan untuk modal tapi malah untuk kebutuhan konsumtif lain, sehingga ketika modal itu habis, usahanya belum berjalan.

Total penyaluran zakat Baznas terhitung sejak Januari sampai Agustus 2022 mencapai Rp4.450.872.000.Sementara untuk pengumpulan zakat sampai Agustus 2022 sebanyak Rp4.402.347.591.

Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta, mengapresiasi dan berterima kasih kepada Baznas Kota Sawahlunto yang pada 2022 berhasil meningkatkan jumlah pengumpulan zakat sehingga jumlah mustahik penerima juga dapat ditambah.

Ia berpesan agar Baznas dapat mengelola dana zakat yang dihimpun dengan profesional dan sesuai syariat.

Wali Kota menilai salah satu hal yang meningkatkan kepercayaan publik pada Baznas Sawahlunto adalah proses verifikasi faktual yang dilaksanakan bagi setiap mustahik calon penerima zakat.

Secara khusus, Wali Kota Deri Asta memuji dan berterima kasih kepada Dedi, mustahik tuna wicara yang telah mengelola amanah dari Baznas dengan baik.

Ia berharap muncul Dedi yang lain sehingga zakat yang dihimpun benar-benar berdaya guna untuk mengentaskan kemiskinan dan membantu mereka yang kesusahan.

Dengan demikian, zakat dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu warga yang kesulitan ekonomi dan menjadi ladang amal bagi yang berzakat.