BBM Ramah Harga Murah

Fikri Halim
·Bacaan 4 menit

VIVA – Bahan Bakar Minyak (BBM) murah yang ramah lingkungan. Mungkin itu harapan ideal yang dinanti-nanti di tengah situasi ekonomi sulit saat pandemi COVID-19 dan kondisi udara di Indonesia.

Meski terdengar sederhana, tapi tak mudah untuk mewujudkannya. Cita-cita ini bahkan sudah terpatri sejak lama, terutama soal lingkungan.

Pemerintah pun mengaturnya lewat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) No 20 Tahun 2017. Dalam ketentuan itu, Indonesia setidaknya akan mengadopsi kendaraan BBM dengan standar Euro 4 untuk gasoline atau bensin mulai Maret 2018 dan diesel mulai Maret 2021. Standar minimal produk BBM yang dijual pun yakni dengan research octane number (RON) 91 alias lebih ramah lingkungan.

Namun faktanya, Indonesia masih menjual BBM di bawah RON 91. Contohnya Premium (RON 88) dan Pertalite (RON 90) produk BUMN, PT Pertamina.

Saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPR beberapa waktu lalu, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati sempat mengungkap, hanya tinggal 7 negara yang masih menjual BBM dengan RON di bawah 91. Antara lain adalah Bangladesh, Kolombia, Mesir, Ukraina, Mongolia, Uzbekistan dan termasuk Indonesia.

Untuk itu, ditegaskannya perlu adanya kajian atau review terhadap produk Pertamina yang juga sangat beragam. Sebagai BUMN yang mendominasi penjualan BBM di tanah air, Pertamina memang telah lama mendorong penggunaan BBM yang ramah lingkungan.

Ada program langit biru yang diusung Pertamina di berbagai wilayah di Indonesia. Lewat program ini, Pertamina menjual Pertalite (RON 90) dengan harga setara premium (RON 88), dari harga normal sekitar Rp7.650 menjadi Rp6.450 per liter.

Selain itu, ada pula program diskon harga BBM Pertamax (RON 92) sebesar Rp250 per liter untuk pengguna aplikasi MyPertamina di SPBU tertentu hingga 31 Oktober 2020.

“Caranya cukup mudah bagi konsumen yang membeli Pertamax di SPBU Pertamina cukup melakukan pembayaran secara non-tunai menggunakan LinkAja dari aplikasi MyPertamina maka langsung mendapatkan harga khusus lebih hemat Rp250/liter,” ujar Putut Andriatno, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading Pertamina.

Kepada VIVA, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Armada Sewa (PAS), Wiwit Sudarsono menghargai upaya Pertamina itu. Namun, para anggotanya yang merupakan driver taksi online dan armada sewa banyak yang mengeluhkan harga tersebut, khususnya Pertamax belum cukup membantu operasional di saat pandemi.

"Saya rasa dengan program tersebut masih kurang tepat, apalagi program itu kan hanya sampai akhir Oktober. Meskipun diturunkan Rp250 per liter belum membantu banyak rekan driver saat pandemi," kata mantan Sekjen Asosiasi Driver Online itu.

Kondisinya saat ini, lanjut dia, para pengemudi taksi online dan rental cenderung masih menggunakan BBM di bawah RON 91 seperti Premium maupun Pertalite. Alasannya karena harga yang lebih murah.

"Apalagi kondisi saat ini susah mendapatkan sewa," tuturnya.

Menurutnya, jika harga Pertamax bisa turun, pengemudi akan beralih dari penggunaan Premium. Dia pun mengaku sangat sepakat jika Pertamax adalah varian BBM Pertamina yang nantinya disubsidi.

"Sangat mendukung kalau Pertamax yang disubsidi, karena baik untuk lingkungan," ujarnya.

Kebijakan yang diambil Pertamina saat ini adalah tetap tulus melayani kebutuhan permintaan konsumen BBM harga murah seperti Premium dan Pertalite. Harganya lebih murah namun tentu kurang ramah lingkungan jika dibanding pertamax.

Pertamina tetap menjual premium sebagai bentuk pelayanan dan penugasan khusus dari Pemerintah lewat Kementerian ESDM. Masyarakat diberikan harga BBM yang terjangkau hingga ke pelosok negeri sebagai bentuk implementasi program BBM satu harga di era Presiden Joko Widodo.

Mungkinkah Harga Pertamax Setara Premium?

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai harga Pertamax bisa saja diturunkan menjadi setara dengan premium. Permasalahan utamanya, lanjut dia, adalah soal biaya pengadaan di Pertamina yang perlu diefisienkan lagi.

Selain itu subsidi silang program BBM satu harga yang dinilai bisa dievaluasi lagi. Ia mencontohkan, harga BBM di Malaysia dengan RON di atas Pertamax (92 ke atas) bisa dijual dengan harga yang murah.

Dilansir dari comparehero, harga BBM di Malaysia dilakukan pembaruan setiap sepekan sekali. Data terbaru, untuk periode 24 Oktober-30 Oktober, BBM RON 95 dijual seharga RM 1,64 atau setara dengan Rp5.784,6 per liter. Sedangkan RON 97 dijual seharga RM 1,94 atau setara Rp6.842 per liter.

"Masalahnya (di Indonesia) pengadaan, (perlu) diefisienkan," kata Fabby saat berbincang dengan VIVA.

Menurutnya, istilah Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) yaitu premium dalam aturan penugasan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hendaknya disesuaikan.

"Harusnya diubah aja penugasan, RON 92 dengan harga yang lebih murah," kata dia.

Senada, Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi sepakat Premium dan Pertalite tak lagi dijual. BBM itu bisa diganti Pertamax dengan harga yang lebih murah.

"Premium dan Pertalite harus segera dihapuskan karena mencemari lingkungan dan tidak sesuai dengan standar Euro-4," kata dia.

Menurutnya, Pertamina saat ini sebetulnya bisa meringankan konsumen dengan menurunkan harga Pertamax. Apalagi momentum saat ini tepat di tengah penurunan harga minyak dunia.

"Di tengah tren penurunan harga minyak dunia, masih ada ruang bagi Pertamina untuk menurunkan harga Pertamax," kata Fahmy. (ren)