Bea Keluar CPO Malaysia 0%, RI Bisa Kalah Bersaing Harga di Pasar

Liputan6.com, Kuala Lumpur : Indonesia harus bergegas karena Malaysia akan kembali menetapkan bea ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar 0% pada Februari 2013. Sedang RI bea keluar saat ini masih 7%. Dengan bea masuk 0% maka kelapa sawit Malaysia bisa lebih murah dan pembeli akan memilih Malaysia ketimbang Indonesia.

Sebagai produsen kedua CPO terbesar di dunia, Malaysia ingin bisa menyaingi Indonesia, sebagai pemasok terbesar CPO.

"Pajak untuk bulan depan masih akan menjadi nol. Hal itu untuk menurunkan jumlah stok di bawah 2 juta ton yang akan baik bagi Malaysia," kata Menteri Komoditas dan Industri Perkebunan Malaysia, Bernard Dompok seperti dilansir Bloomberg, Senin (14/1/2013).

Stok CPO Malaysia meningkat 2,4% menjadi 2,63 juta ton pada Desember, naik dari bulan sebelumnya sebesar 2,57 juta ton, menurut Dewan Minyak Sawit Malaysia. Produksi sawit turun 23% pada tahun lalu karena pelambatan permintaan di Eropa, dan penurunan di China.

Sementara Indonesia, diketahui sedang mempertimbangkan untuk mengikuti jejak Malaysia, seperti penjelasan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Saat ini Indonesia masih mengenakan bea keluar CPO sebesar 7,5%.

"Setiap tindakan baik oleh Malaysia atau Indonesia, sebagai dua produsen terbesar minyak kelapa sawit, akan berdampak pada harga dan ekonomi," kata Dompok, ketika ditanya tentang kemungkinan pergerakan harga.

Peningkatan kompetisi dengan Indonesia dapat mengikis ekspor CPO. Sementara kondisi ini menguntungkan importir seperti India, China dan Pakistan.

Kontrak untuk pengiriman Maret naik sebanyak 1,4% menjadi 2.402 ringgit (US$ 796) per ton di Malaysia Derivatives Exchange, kenaikan terbesar sejak 2 Januari yang sebesar 2.387 ringgit. Harga CPO turun 4 persen pekan lalu , terbesar dalam lima hari sejak 9 November 2012. (Nur/Igw)