Bebas Visa Kunjungan untuk 169 Negara Bakal Dikaji Ulang

Liputan6.com, Tanngerang - Pemerintah bakal meninjau ulang aturan pembebasan visa kunjungan atau wisata, bagi 169 negara. Adapun aturan tersebut sudah ada sejak 4 tahun lalu.

Langkah pengkajian karena ada negara yang mendapatkan fasilitas bebas visa, namun tidak menghasilkan angka wisatawan tinggi yang masuk ke Indonesia.

"Kami bersama Menteri Luar Negeri, bu Retno Marsudi sepakat, akan kita review kembali (aturan tersebut). Karena banyak negara-negara yang bebas visa tapi tidak menghasilkan wisatawan (berkualitas)," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama saat melakukan kunjungan kerja ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Kota Tangerang, Kamis malam (16/1/2020).

Terlebih saat ini, Indonesia tengah mengatur strategi agar wisatawan asing yang berkunjung, benar-benar menghasilkan devisa bagi negara. Bukan sekedar melancong.

Wishnutama mencontohkan, Australia yang angka kunjungan wisatawan asingnya di bawah Indonesia, hanya 9 juta per tahun, namun devisa yang dihasilkan sangat tinggi, mencapai USD 31 miliar.

Namun berbeda dengan Malaysia, yang angka kunjungan wisatawannya mencapai 25 juta orang, tapi devisa yang dihasilkan biasa saja.

"Kenapa Malaysia bisa tinggi tapi devisa yang dihasilkan biasa saja, karena 10,5 jutanya wisatawan Singapura yang tinggal nyebrang," katanya.

Sebab itu, kata dia, yang perlu ditingkatkan adalah bagaimana cara agar Indonesia memperoleh devisa dari kedatangan wisatawan manca negara (wisman).

 

Atur Strategi

Sejumlah turis menikmati pantai Kuta di pulau pariwisata Indonesia di Bali (4/1). Pantai Kuta terkenal memiliki ombak yang bagus untuk olahraga selancar, terutama bagi peselancar pemula. (AFP Photo/Sony Tunbelaka)

Bukan hanya mengejar jumlah kedatangan wisman saja, namun yang menghasilkan devisa.

"Ke depan, yang perlu kita tingkatkan adalah kualitas daripada wisatawan, karena kan tujuan kita adalah untuk mendatangkan devisa, bukan number of people tapi number of devisa, yang penting adalah devisanya yang masuk lebih banyak," tutur Wishnu.

Oleh karenanya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah membahas dan mengatur strategi untuk mendatangkan wisatawan yang menguntungkan Indonesia.

"Jadi itu yang harus kita perhatikan, strategi mana yang harus kita mainkan. Kita mengejar angka kuantitas atau kualitas? Nah, ini yang musti kita dapat pahami dalam strategi yang benar. Jangan cuma sekedar mengejar angka tetapi kualitasnya tidak bagus," ujar Wishnutama. (Pramita Tristiawati)