Beberapa Kali Bertahan dari Krisis, Pemerintah Sebut Indonesia Negara Tangguh

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Febrio Nathan Kacaribu, mengatakan Indonesia selalu memiliki kemampuan untuk menghadapi kesulitan. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan Indonesia selama beberapa puluh tahun terakhir.

"Performa ekonomi kita selama beberapa puluh tahun terakhir, khususnya yang ingin di-highlight bahwa Indonesia itu adalah negara yang tangguh. Bagaimana kita ketika menghadapi kesulitan, kesulitan itu bahkan kita gunakan sebagai momentum untuk melakkan perbaikan-perbaikan mendasar, yang istilahnya reformasi," kata Febrio dalam Dialogue KITA dengan tema Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Fiskal 2022 pada Jumat (4/6/2021).

Indonesia melakukan reformasi pasca krisis ekonomi Asia pada 1998. Antara lain dengan mereformasi tatanan politik yang lebih demokratis dan otonomi daerah, tata lelola perbankan dengan keluarnya Undang-Undang (UU) Bank Indonesia, serta tata kelola keuangan negara melalui UU Keuangan Negara.

Kemudian, reformasi kembali dilakukan pasca krisis keuangan global 2009.

"Di sana kita melihat peluang untuk melakukan perbaikan yang substansial dan mendasar bagi perekonomian kita. Kita memperkenalkan tata kelola sektor keuangan dengan membentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Indonesia selalu merespons dengan perbaikan-perbaikan yang signifikan," jelas Febrio.

Hal yang sama pun dilakukan saat Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 sejak 2020 hingga sekarang. Di tengah krisis, reformasi dilakukan dengan mendorong lahirnya UU Cipta Kerja.

Tujuannya, kata Febrio, agar bisa meningkatkan daya saing Indonesia dengan memperbaiki iklim usaha. Sehingga pengusaha bisa cepat dan efisien membuka bisnisnya, lalu pada saat bersamaan membuka lapangan pekerjaan yang berkualitas.

"Dan ini yang sudah kita lihat hasilnya pada 2021, secara gradual bagaimana investasi-investasi itu mulai masuk, dan nanti kita harapkan akan terlihat di data performa investasi dan juga secara keseluruhan," tuturnya.

Pandemi Covid-19 Membuat Indonesia Masuk Krisis Terberat Sejak Merdeka

Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Raden Pardede, mengatakan bahwa pandemi Covid-19 membuat Indonesia menghadapi krisis terberat sejak merdeka. Pandemi besar biasanya terjadi satu abad sekali seperti Spanish flu pada 1918.

"Pandemi Covid-19 ini melahirkan krisis yang belum pernah kita alami sebelumnya. Krisis kesehatan saat ini merupakan yang terberat yang dialami Indonesia bahkan sejak kita berdiri," jelas Raden dalam webinar Indonesia Sehat dan Maju: Kebangkitan Ekonomi Pasca Pandemi pada Rabu (10/3/2021).

"Pandemi yang besar seperti ini biasanya bisa saja satu abad sekali. Terakhir kali ada 1918 yaitu Spanish flu, kemudian baru terjadi satu abad berikutnya seperti yang kita alami sekarang ini," sambungnya.

Indonesia seperti halnya negara-negara lain juga mengalami tekanan berat yang berdampak ke berbagai sektor, termasuk kesehatan, ekonomi, hingga sosial.

Raden menjelaskan, pandemi Covid-19 berbeda dibandingkan krisis yang dihadapi sebelumnya termasuk asian financial crisis pada 1998 dan global financial crisis pada 2008. Keduanya berawal dari sektor ekonomi dan keuangan, sedangkan kali ini sumber krisisnya bersumber dari kesehatan.

"Kita belajar mencari jalan keluar, melakukan penyesuaian yang paling optimal. Kita tidak bisa menyatakan mengerti mengenai krisis karena terus terang saja kita belajar karena dimana-mana juga mencoba belajar soal krisis kesehatan yang seperti ini," tutur Raden.

Indonesia pun memilih strategi yang menyeimbangkan kesehatan dan ekonomi.

"Setiap negara mengambil jalan yang tidak sama disesuaikan dengan kondisi dan negara masing-masing. Strategi yang diambil Indonesia adalah jalan tengah, mencoba melihat keseimbangan antara kesehatan atau kehidupan dengan penghidupan," kata Raden.

Indonesia Bisa Segera Bebas dari Covid-19, Apa Saja Syaratnya?

Ilustrasi pandemi Corona | unsplash.com/@adamsky1973
Ilustrasi pandemi Corona | unsplash.com/@adamsky1973

Setahun sudah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Kegiatan fisik masih belum bisa dilakukan dengan leluasa. Pun, aktivitas ekonomi masih belum bisa bangkit dengan sepenuhnya.

Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansury mengatakan, agar Indonesia bisa segera bebas dari virus Covid-19, ada beberapa faktor pengungkit yang harus dijalankan dengan baik.

Pertama, intervensi kebijakan di bidang kesehatan. Selain memperketat 3T (tracking, tracing, testing) dan 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker), pelaksanaan vaksinasi juga penting dilakukan, bahkan menjadi game changer.

"Intervensi sektor kesehatan ini harus, termasuk vaksinasi terhadap 181 juta penduduk Indonesia. Kemudian, 3T yang lebih baik terutama di wilayah yang beresiko lebih tinggi," jelas Pahala dalam webinar Prospek BUMN 2021 Sebagai Lokomotif PEN dan SWF, Kamis (4/3/2021).

Faktor pengungkit kedua ialah kebijakan mendorong masyarakat tetap bertahan hidup serta alokasi recovery kitnya. Misalnya, bantuan perlindungan sosial, subsidi listrik, subsidi kuota internet hingga relaksasi kredit.

Setelah masyarakat bertahan hidup, mereka diharapkan dapat melakukan restrukturisasi keuangan rumah tangga mereka.

"Selain itu juga reformasi birokrasi, seperti adanya UU Cipta Kerja dan aturan turunannya," jelas Pahala.

Faktor ketiga ialah kontribusi dari BUMN. Melalui BUMN, pemerintah menyalurkan bantuan untuk meringankan beban masyarakat di masa pandemi. Misalnya, subsidi listrik melalui PLN, penjaminan kredit melalui Jamkrindo hingga restrukturisasi kredit melalui bank-bank Himbara.

"selain itu BUMN juga akan terus melakukan investasi, seperti Pertamina yang akan invest USD 10 miliar tahun ini, lalu PLN juga akan invest. Hal ini diharapkan tidak hanya menjadi jump start ekonomi, namun juga pengembangan bisnis model baru untuk kegiatan ekonomi di jangka pendek dan menengah-panjang," jelas Pahala.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel