Beberapa negara bagian AS alami lonjakan infeksi virus corona, Wall Street gelisah

Oleh Steve Gorman dan Nathan Layne

(Reuters) - Lonjakan terjadi pada tingkat infeksi virus corona yang dilaporkan Jumat di beberapa negara bagian AS, terutama di Selatan dan Barat, sehari sebelum Presiden Donald Trump memimpin kampanye Oklahoma yang akan menjadi kerumunan dalam ruangan terbesar di Amerika selama berbulan-bulan.

Wall Street dibuat gelisah oleh kebangkitan kasus COVID-19 ketika negara bagian-negara bagian bergerak untuk membuka kembali perdagangan yang sudah lama tertahan dan mengendurkan jaga jarak sosial yang membantu penurunan indeks saham utama AS sehingga membalikkan kenaikan yang tercapai sebelumnya.

Para ahli mengatakan tes diagnostik yang diperluas mencakup beberapa, tetapi tidak semua, dari kenaikan kasus yang berjumlah setidaknya 2,23 juta secara nasional pada Jumat dan naiknya volume infeksi telah meningkatkan rawat inap di beberapa tempat.

"Jelas kasus bertambah dengan cepat. Ini bukan hanya masalah pengujian lebih lanjut," kata Dr Murtaza Akhter, dokter ruang gawat darurat di rumah sakit Arizona, seraya mencatat jeda waktu antara tes positif dan sakit parah atau kematian. "Kekhawatiran sebenarnya adalah apa yang akan terjadi pada kita dalam satu atau dua pekan ke depan."

Dia mengatakan gelombang kasus terbaru telah menempatkan rumah sakit-rumah sakit utama Arizona sudah berada atau mendekati kapasitasnya, dan menempatkan negara bagian Barat Daya itu di jalur melampaui New York pada puncaknya berdasarkan basis per kapita.

Lebih dari 119.000 warga Amerika meninggal dunia akibat COVID-19, menurut penghitungan Reuters.

Terutama yang mengkhawatirkan adalah tren kenaikan yang dilaporkan beberapa negara bagian dalam persentase tes positif di kalangan individu terdiskrining yang oleh para ahli metrik disebut sebagai tingkat kepositifan.

Organisasi Kesehatan Dunia menganggap tingkat kepositifan di atas 5 persen menjadi perhatian utama, dan data yang diamati luas dari Universitas Johns Hopkins menunjukkan 16 negara bagian memiliki tingkat rata-rata selama pekan lalu telah melewati level ini dan tengah menanjak.

Empat negara bagian berata-rata dua digit - Arizona pada 17 persen, Alabama pada 12 persen, negara bagian Washington pada 11 persen dan South Carolina Selatan pada 10 persen. Selusin lainnya dipimpin Utah, Texas, Mississippi, Florida, dan Georgia, semuanya rata-rata 7,5 persen atau lebih tinggi.

Beberapa angka harian terbaru juga membingungkan.

Arizona, tempat dokter dan administrator kesehatan masyarakat menyerukan agar penutup wajah diwajibkan di depan umum, melaporkan 3.246 infeksi baru selama 24 jam sebelumnya, hampir dua kali lipat dari infeksi Rabu. Tingkat kepositifan satu hari terbaru, dari Kamis, mencapai 18,6 persen.

Di Phoenix, tempat presiden akan mengunjungi sebuah gereja Selasa depan untuk acara "Students for Trump", dewan kota menggelar pemungutan suara untuk desakan walikota pada Jumat agar mewajibkan penutup wajah di sebagian besar tempat umum. Langkah itu muncul dua hari setelah Gubernur Doug Ducey mengeluarkan perintah eksekutif yang memungkinkan kota dan kabupaten untuk mewajibkan penutup wajah.

Florida, salah satu negara bagian terakhir yang memberlakukan pembatasan tinggal di rumah dan salah satu negara pertama yang mulai mencabutnya, melaporkan 3.822 kasus baru. Angka positif terbarunya adalah 10 persen.

"Situasi di Florida dan Arizona benar-benar memprihatinkan," kata William Hanage, profesor epidemiologi dari Universitas Harvard, seraya menambahkan bahwa lonjakan kasus bukan hanya karena banyaknya tes tetapi juga indikasi "skala wabah tidak diketahui."

Bahkan jika pertumbuhan dalam kasus-kasus terkonfirmasi sebagian mencerminkan penularan di kalangan orang usia lebih muda, kecil kemungkinannya udirawat di rumah sakit, orang-orang itu bisa menginfeksi orang tua dan orang-orang rentan lainnya dengan sudah lebih dulu memiliki masalah kesehatan.

"Semakin banyak penularan komunitas, semakin besar risiko menginfeksi orang yang rentan. Ada cukup banyak orang tua di Florida dan di Arizona," kata Hanage.

Fokus perhatian lainnya adalah di Oklahoma, di mana kampanye Trump akan mengadakan rapat umum Sabtu di arena dalam ruangan dengan 19.000 kursi di Tulsa yang merupakan acara pertamanya sejak lockdown diberlakukan di sebagian besar negara ini Maret.

Pakar-pakar kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa mengumpulkan ribuan orang yang berteriak dan bersorak di dalam BOK Center dan gedung pertemuan yang berdekatan, berisiko membuat acara itu "super penyebar" virus corona yang sangat menular.

Penyelenggara kampanye berencana membagikan masker dan pembersih tangan kepada peserta sebelum mereka memasuki venue, tetapi mereka tidak diharuskan menjaga jarak sosial atau mengenakan penutup wajah. Mereka juga harus menandatangani surat pernyataan berjanji untuk tidak menuntut Trump atau kampanye jika mereka tertular virus.

Pendukung Trump mulai berbaris di luar arena jauh sebelumnya. Salah satunya, Randall Thom (60) dari Lakefield, Minnesota, yang mengatakan Jumat bahwa Amerika Serikat perlu dibuka kembali.

"Kita tak boleh takut kepada virus China ini atau apa pun Anda ingin menyebutnya. Saya tidak takut sama sekali," kata dia. "Dan saya merasa sangat tersanjung bahwa Presiden Trump ingin bercengkerama dengan kami sebagai warga negara, Anda tahu, untuk memberi kami hak kami mendapatkan lagi kenormalan."