Beda Agama Bukan Penghalang Kebersamaan, Rindu Kehangatan Ramadan di Rumah Oma

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Amadea Nggeo

Ramadan adalah obat kangen yang saya tunggu-tunggu di sepanjang tahun karena di dalam Ramadan ada sejuta kenangan masa kecil saya di rumah oma. Meskipun saya beragama Kristen momen yang paling saya nantikan adalah Ramadan dan Natal karena kami sekeluarga bisa berkumpul di Rumah Oma. Momen Ramadan memiliki ciri khas kenangan yang indah dan unik di ingatan saya. Namun, sejak Covid 19 ini saya dan keluarga belum mengunjungi oma yang terletak di desa lereng gunung.

Bekerja di tengah hiruk pikuk kota terkadang membuat saya jenuh. Saya berupaya mencari tempat wisata terdekat hanya untuk melepaskan penat ternyata tidak sebanding ketika saya di Rumah Oma. Menjelang Ramadan biasanya Oma membuat kue-kue kering untuk diletakan di meja ruang tamu. Meskipun kami non muslin, namun di lingkungan desa tempat oma tinggal terjalin toleransi yang baik. Di rumah oma hanya duduk saja pun penat sudah langsung bisa terobati apalagi ketika suasana Ramadan di mana banyak aktivitas di desa yang membuat saya rindu untuk melihat, dan mendengarkan.

Salat Idultfitri dan Shalawat Tarhim

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio

Malam takbiran sebelum Idulfitri, anak-anak desa berkeliling desa. Gendang ditabuh, obor dinyalakan, dan sorak sorai menyambut Idulfitri. Esok paginya tetangga kami bersiap-siap untuk shola ied di masjid desa kami. Ada anak-anak, keluarga kecil, keluarga dari kota besar, bahkan ada juga yang sendiri berjalan bersama sama menuju masjid.

Pintu rumah Oma terbuka lebar untuk menyambut tetangga yang bersilaturahmi di hari yang suci ini. Suara anak kecil berlarian, canda tawa, aroma teh dan kopi buatan oma bahkan asap rokok tamu di desa sungguh adalah hal kecil yang kurindukan. Menjelang siang biasanya saya dan adik saya menonton acara TV yang bertema Ramadan baik itu film, acara musik atau bahka berita. Menjelang sore kami biasanya berjalan-jalan di alun-alun kota untuk mencicipi berbagai macam kuliner. Lagi–lagi ada satu hal yang saya rindukan, yaitu masjid alun-alun yang mengumandangkan Sholawat Tarhim. Di mana pun saya mendengarkan Sholawat Tarhim, saya selalu kangen rumah oma.

Di saat subuh ketika Sholawat Tarhim dikumandangkan Oma pasti sudah bangun untuk menyalakan keran air, memasak, dan menonton TV. Ketika saya keluar suasana masih berkabut dan dingin namun menyegarkan pikiran. Bahkan dulu, ketika saya masih SMP ketika HP belum secanggih sekarang saya dan adik saya merekam Sholawat Tarhim melalui HP karena kebetulan rumah oma dekat dengan Masjid. Begitu pula dengan suara takbir keliling juga kami rekam karena kami akan sangat rindu suasana di sini ketika kami pulang.

Kini di masa pandemi ini rasa rindu itu semakin besar apalagi di hari-hari menjelang Idulfitri. Kami hanya bisa tinggal di rumah kami di kota dan tidak bisa ke mana-mana. Aroma kue kering dan teh oma belum bisa menemani kami di tahun ini, semoga saja pandemi ini segera berakhir dan kami bisa berkumpul bersama lagi di desa menikmati teh sore sambil mendengarkan sholawat tarhim yang merdu.

#ElevateWomen