Beda dari 1998, Airlangga Pede Krisis COVID-19 Setahun Tertangani

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim bahwa krisis yang disebabkan dari dampak pandemi COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia sudah mulai membaik.

Menurut dia, itu tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang di akhir tahun ini mampu menyentuh level 6.000 dari sebelumnya pada Maret 2020 menyentuh titik terendahnya di kisaran 3.000.

Hal itu dia sampaikan saat memberikan sambutan di acara peresmian penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2020 yang dilaksanakan secara langsung dan virtual, Rabu, 30 Desember 2020.

"Di akhir tahun ini, Alhamdulillah situasi sudah mulai membaik dan dalam penutupan mendekati 6.000, walaupun kemarin sudah memasuki 6.000, artinya pre dan post COVID-19 sudah kelihatan," ucap dia.

Airlangga menekankan, kondisi itu menjadi pembeda dari kondisi krisis-krisis yang sebelumnya telah menerpa Indonesia. Khususnya krisis pada 1998 dan krisis 2008 yang dapat diselesaikan lebih dari satu tahun.

"Berbeda dengan krisis yang lain di mana krisis tahun 1998 memakan waktu lebih dari dua tahun dan terkait kasus di 2008 juga lebih dari satu tahun sehingga ini memberikan optimisme," ungkapnya.

Sepanjang tahun ini, BEI mencatat di tengah pandemi COVID-19, minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal tidak surut. Hingga 30 Desember 2020, telah terdapat 51 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan saham di BEI.

Dengan demikian, sampai dengan saat ini terdapat 713 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI. Indonesia pun masih menjadi bursa dengan jumlah IPO terbanyak di ASEAN.

Aktivitas perdagangan BEI pada 2020 juga mengalami peningkatan yang tercermin dari kenaikan rata-rata frekuensi perdagangan yang tumbuh 32 persen menjadi 619 ribu kali per hari pada November 2020 dan menjadikan likuiditas perdagangan saham BEI lebih tinggi di antara bursa-bursa lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Sepanjang 2020, jumlah investor di pasar modal Indonesia yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksa dana, mengalami peningkatan sebesar 56 persen mencapai 3,87 juta Single Investor Identification (SID) sampai dengan 29 Desember 2020.

Kenaikan investor ini 4 kali lipat lebih tinggi sejak 4 tahun terakhir dari 894 ribu investor pada 2016. Selain itu, investor saham naik sebesar 53 persen menjadi sejumlah 1,68 juta SID. Kemudian, jika dilihat dari jumlah investor aktif harian, hingga 29 Desember 2020 terdapat 94 ribu investor atau naik 73 persen dibandingkan akhir tahun lalu.

Seiring dengan meningkatnya partisipasi investor ritel domestik, rekor transaksi perdagangan baru berhasil dicapai pada 2020 ini, yaitu frekuensi transaksi harian saham tertinggi pada 22 Desember 2020 sebanyak 1.697.537 transaksi.