Beda dengan Indonesia, Gambia Belum Pastikan Gangguan Ginjal Anak Karena Obat Sirop

Merdeka.com - Merdeka.com - Kemenkes mengungkap kandungan Etilen Glikol dan Dietilen Glikol (EG dan DEG) di dalam obat sirop jadi pemicu gangguan ginjal akut pada anak. Negara Gambia yang menjadi rujukan pertama kasus tersebut.

Namun belakangan, Gambia merilis bahwa otoritasnya belum bisa memastikan bahwa penyebab kematian 70 anak di negara tersebut berasal dari obat sirop, kata perwakilan dari Badan Pengawas Obat negara itu, dikutip dari reuters, Kamis (3/11).

Negara bagian kecil di Afrika Barat itu telah menyelidiki kematian anak-anak dalam beberapa bulan terakhir. Polisi setempat mengatakan, penyelidikan awal diduga akibat empat obat sirop batuk asal India.

Penyelidik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menemukan tingkat dietilen glikol dan etilen glikol yang berlebih dalam produk. Obat tersebut dibuat oleh Maiden Pharmaceuticals Ltd yang berbasis di New Delhi, India.

Tetapi Badan Pengawas Obat Gambia, badan pengawas nasional, belum menentukan penyebab pasti kematian, kata Tijan Jallow, seorang petugas di badan tersebut.

"Kami belum menyimpulkan obat yang menyebabkannya. Banyak anak meninggal tanpa minum obat apapun," kata Jallow dalam konferensi pers.

"Anak-anak lain meninggal, obat yang mereka minum, kami telah menguji mereka dan mereka baik-baik saja," tambahnya.

Agensi sedang mencoba untuk menentukan obat mana, jika ada, yang diminum setiap anak.

Lonjakan kasus gangguan ginjal akut di antara anak-anak di bawah usia lima tahun terdeteksi sejak Juli. Para pejabat Gambia mengatakan, sejumlah pasien jatuh sakit tiga sampai lima hari setelah minum obat sirop parasetamol yang dijual di pasaran.

Pada bulan Oktober, jumlah kematian meningkat menjadi 70. Dari 82 anak dilaporkan mengalami cedera ginjal akut. 12 Lainnya pulih, menurut kementerian kesehatan Gambia.

Indonesia juga mencatat lonjakan kematian anak akibat cedera ginjal akut dalam beberapa bulan terakhir. Mereka sedang menyelidiki kemungkinan penyebab sirop parasetamol.

Kasus di Indonesia

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap penyebab 241 anak Indonesia menderita gagal ginjal akut. Rupanya, itu disebabkan senyawa kimia berbahaya dari pelarut obat sirop.

Budi mengatakan, penyakit gagal ginjal anak awalnya masuk dari obat sirop yang dikonsumsi. Menurut dia, dalam setiap obat sirop digunakan pelarut tambahan.

"Ini adalah pelarut tambahan yang memang sangat jarang ditulis di senyawa aktif obat dan pelarut tambahan sebenarnya tidak berbahaya. Tapi kalau kualitas produksi pelarut tambahan buruk, dia menghasilkan cemaran cemaran," jelas Budi saat konferensi pers di Kemenkes, Jakarta, Jumat (21/10).

Cemaran tersebut yakni ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG) danethylene glycol butyl ether (EGBE).

Budi mengatakan, tiga senyawa tersebut masuk ke tubuh dan terjadi proses metabolisme tubuh. Metabolisme tubuh yang alamiah itu mengubah senyawa tersebut menjadi asam oksalat, zat kmia berbahaya.

"Metabolisme mengubah jadi asam oksalat, nah ini berbahaya asam oksalat itu kalau masuk ke ginjal bisa jadi kalsium oksalat. Jadi kaya kristal kecil tajam. Sehingga kalau ada kristal kecil tajam di Balita kita ya rusak ginjalnya," kata Menkes.

Menkes mengungkap, pihaknya sempat menguji beberapa kali para Balita yang terkena gagal ginjal akut. Seperti pengujian patologi, namun rupanya gagal.

Hingga akhirnya, WHO menginformasikan bahwa penyebab gagal ginjal akut karena ada zat kimia berbahaya. Seperti yang terjadi di negara Gambia.

"Kalau ada logikanya kalsium oksalat masuk ke ginjal, ginjalnya rusak,"

"Meningalnya gara-gara ini," ujar Menkes lagi. [rnd]