Beda dengan Pusat, MUI Jatim: Vaksin AstraZeneca Halal

Lis Yuliawati, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengeluarkan fatwa berbeda dari MUI pusat terkait hukum vaksin merek AstraZeneca. MUI Jatim menyatakan vaksin buatan Inggris itu halal dan suci, kendati pun dalam proses pembuatannya menggunakan tripsin babi. Sebab, dalam prosesnya hingga menjadi produk sudah mengalami perubahan bentuk sehingga vaksin AstraZeneca sudah menjadi suci.

Soal kehalalan AstraZeneca itu disampaikan Ketua Umum MUI Jatim Hasan Mutawakkil Alallah, usai pelaksanaan vaksinasi yang disaksikan Presiden Jokowi, di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Senin, 22 Maret 2021. Sebelum meninjau vaksinasi, Jokowi juga bertemu sejumlah kiai sepuh dan pengasuh pondok pesantren untuk meminta pendapat soal AstraZeneca.

“Dan hukumnya (vaksin AstraZeneca) halalan thayyiban dan memang seharusnya untuk dimanfaatkan program vaksinasi pemerintah ini karena tujuannya tidak lain untuk menjaga jiwa dan keselamatan rakyatnya. Tidak ada pemerintah yang akan mencelakakan rakyatnya sendiri,” kata Mutawakkil.

Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim Ma’ruf Chozin menyampaikan, berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh tim di lembaganya, disimpulkan bahwa AstraZeneca halal. Kesimpulan itu diambil setelah MUI Jatim menerima banyak data dari LPPOM Pusat dan ahli kedokteran terkait AstraZeneca. Data-data itu kemudian dijadikan bahan untuk dikaji oleh Komisi Fatwa MUI Jatim dari sudut pandang hukum Islam.

“Dari para pakar itu terjadi perbedaan, ada yang langsung mengatakan tripsin (babi)-nya itu langsung menggunakan benda yang diharamkan. Tapi menurut pakar lain menyatakan tidak ada, artinya tidak sampai bersentuhan. Hanya untuk membiakkan saja, untuk menyuburkan saja,” kata Ma’ruf saat merilis hasil fatwa di kantor MUI Jatim di Surabaya, Senin, 22 Maret 2021.

Di kalangan ulama fikih sendiri, lanjut dia, terdapat perbedaan pendapat terkait perubahan bentuk benda yang najis dan haram. Ada yang menyatakan benda tersebut tetap najis, ada pula yang berpendapat sudah menjadi suci dan halal. “Bagi kami di kalangan fikih Islam, bisa ditemukan dalam satu titik sudut pandang bahwa ketika ada benda haram kemudian mengalami perubahan pada status lain, maka sudah menjadi suci dan menjadi halal,” ujarnya.

Dalam konteks vaksin, Ma’ruf menganalogikan itu seperti buah anggur. Mulanya, anggur berstatus suci dan halal dikonsumsi. Tapi, ketika difermentasi menjadi minuman keras maka menjadi haram. Itu pula yang terjadi pada proses cuka yang suci dan halal dikonsumsi. Ketika terfermentasi dan menjadi tuak maka haram diminum.

"Maka analogi kami MUI Jatim, awalnya virus itu adalah barang suci, kemudian ada tripsin, kecampuran dengan benda najis, setelah itu diangkat menjadi vaksin, maka sudah menjadi halal lagi, menjadi suci lagi, dan kita tidak perlu ragu akan hal itu," kata Ma’ruf.

Sebelumnya, MUI Pusat mengeluarkan fatwa bahwa vaksin merek AstraZeneca haram karena mengandung tripsin babi pada proses pembuatannya. Kendati haram, namun boleh alias mubah digunakan jika dalam kondisi darurat.