Beda Keterangan Sambo dan Bharada E, Polisi Diminta Pastikan Siapa Penembak Yosua

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahmad Taufan Damanik menilai jika perbedaan keterangan antara Bharada E dengan Ferdy Sambo terkait siapa saja yang menembak Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, harus dipecahkan penyidik kepolisian.

"Poinnya adalah penyidik memastikan siapa penembak Yoshua? Antara FS dan Barada E terjadi perbedaan keterangan," kata Taufan saat dihubungi, Minggu (4/9).

Pasalnya, lanjut Taufan, antara keterangan Bharada E bilang pelaku penembakan adalah dirinya dan Ferdy Sambo. Sebaliknya Mantan Kadiv Propam itu mengatakan hanya Bharada E, atas perintah darinya.

Alhasil, Taufan menilai jika perbedaan keterangan itu harus bisa dijelaskan dan dibuktikan. Termasuk juga, keterangan terkait dugaan penembak Brigadir J yang berjumlah tiga orang.

"Jadi perlu dipastikan dengan bukti-bukti pendukung siapa saja yang menembak Joshua, satu orang kah, dua orang atau mungkin saja tiga orang," katanya.

Misteri Tembakan Sambo

Sebelumnya, misteri penembakan ke arah kepala dan dada tidak terjawab dalam rekonstruksi Brigadir J. Baik, Ferdy Sambo dan Bharada E atau Eliezer tidak terlihat melakukan adegan penembakan ke dada dan kepala Yoshua.

Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian Djajadi mengatakan hal itu dikarenakan adanya perbedaan pendapat di antara Ferdy Sambo dengan Bharada Eliezer, terkait penembakan Brigadir J.

"Masalah dia (Ferdy Sambo) nembak atau tidak. Makanya saya katakan tadi, masing-masing punya pendapat, punya keterangan," kata Andi kepada wartawan, Selasa (30/8).

Andi pun tidak membenarkan apakah ada tembakan yang diletuskan Ferdy Sambo ke arah Brigadir J. Dia menyerahkan terkait kebenaran itu ke majelis hakim yang memimpin persidangan nanti.

"Nanti akan kita uji di pengadilan," ujarnya.

Pasalnya selama proses pemantauan rekonstruksi yang disiarkan langsung, terdapat dua kali adegan dalam peristiwa penembakan terhadap Brigadir J yang terjadi di rumah dinas (Rumdin), Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Berikut dua versi berdasarkan rekonstruksi yang telah digelar:

Versi 1:

Pada reka adegan di ruang tengah rumah dinas Ferdy Sambo ini, terdapat tiga orang saat Brigadir J atau Brigadir Yoshua dieksekusi. Ketiganya, Ferdy Sambo, Bharada Eliezer dan Brigadir J. Dalam reka adegan ini, terlihat Brigadir J memohon ampun kepada Bharada E yang saat itu menodongkan pistol ke arahnya.

Posisi Brigadir J dekat anak tangga yang menuju ke lantai atas. Sedangkan, Bharada E berada di depannya sambil menodongkan pistol. Sedangkan, Ferdy Sambo diperankan oleh pemeran pengganti yang menyuruh Bharada Eliezer segera menembak Brigadir J.

Dalam veri keterangan Bharada E, dalam reka adegan rekonstruksi Ferdy Sambo ikut menembak Brigadir J setelah dirinya. "iya (ikut menembak). Iya versinya Bharada E," kata Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi yang ikut proses rekonstruksi saat dihubungi merdeka.com, Rabu (31/8).

Tembakan Sambo itu mengarah pada bagian belakang tubuh Brigadir J ketika telah tumbang dengan posisi telungkup. Usai memohon kepada Sambo agar tidak ditembak Bharada E, saat di ruang tamu rumah Komplek Perumahan Polri

"Iya dia (Brigadir J) memohon bukan kepada Bharada E, karena perintahnya kan dari Sambo. Iya dari belakang, (pas sudah telungkup) iya gitu," ucapnya.

Kemudian reka adegan berlanjut, Ferdy Sambo yang di samping jasad Brigadir J tepatnya dekat tangga menuju lantai dua, memberi tembakan alibi ke arah dinding. Tembakan alibi itu bagian dari skenario Ferdy Sambo yaitu adanya aksi tembak menembak antara dua ajudannya.

Versi 2:
Sementara itu, reka adegan penembakan Brigadir J versi kedua, memperlihatkan Brigadir J berhadapan dengan Ferdy Sambo, di kantong Brigadir J ada senjata api. Di samping kiri Ferdy Sambo berdiri Bharada E yang tengah menodongkan pistol.

Melihat Bharada E menodongkan senjata api, Brigadir J lantas mundur. Namun, setelah itu terlihat Eliezer dan Ferdy Sambo secara bersamaan maju menuju Brigadir J. Hal itu sebagaimana dalam kesaksian reka adegan Ferdy Sambo.

Dilanjutkan Edwin, Mantan Kadiv Propam itu kukuh tidak melakukan penembakan terhadap Brigadir J. Dia mengaku hanya memerintahkan Bharada E untuk menembak ajudannya tersebut.

"Ya kalau dari keterangan dia, dia tidak menembak," sebutnya.

Kemudian, Edwin melihat dari keterangan keduanya senada menyetujui reka adegan ketika Ferdy Sambo mengambil pistol dan sengaja menembak ke arah dinding atas tangga dan di tembok sisi lainnya.

"Iya," singkat Edwin membenarkan. [bal]