Bedol Karyawan Ketika Elon Musk Isyaratkan Kebangkrutan Twitter?

Merdeka.com - Merdeka.com - Perjalanan Twitter selama tiga minggu di bawah pimpinan Elon Musk diwarnai drama panjang. Mulai dari PHK massal, isyarat kebangkrutan, hingga hengkangnya sejumlah petinggi Twitter di waktu berdekatan.

Salah satunya Kepala Integritas dan Keselamatan Twitter Yoel Roth, menjadi yang terbaru meninggalkan perusahaan. Padahal, sebelumnya dia termasuk aktif menyuarakan pembelaan terhadap pemilik baru Twitter, Elon Musk.

Melansir The Guardian, Senin (14/11), kepergian serempak para pemegang jabatan tinggi Twitter itu dimulai pada hari yang sama ketika Elon Musk pertama kalinya berbicara kepada karyawan. Kala itu, dia mensinyalir kemungkinan kebangkrutan perusahaan berlogo burung biru itu di masa mendatang.

"Kebangkrutan bukan tidak mungkin terjadi," kata Musk kepada karyawan, sebagaimana banyak diberitakan.

Hari itu juga, Kamis (10/11), tiga petinggi Twitter yang menangani bagian keamanan mengundurkan diri. Yakni Kepala Petugas Keamanan Informasi Lea Kissner, Kepala Petugas Privasi Damien Kieran, dan Kepala Petugas Kepatuhan Marianne Fogarty. Menyusul hari berikutnya, Yoel Roth dan Kepala Solusi Klien Robin Wheeler turut keluar dari perusahaan.

Sebagai pemimpin, Musk terlihat tidak menunjukkan kepercayaan pada masa depan Twitter. Bahkan lewat sebuah email kepada karyawan, Musk sempat menggambarkan keadaan keuangan perusahaan yang kurang potensial. Sehingga dia meyakini layanan berlangganan premium Twitter Blue sebagai solusi meningkatkan pendapatan.

"Tanpa pendapatan berlangganan yang signifikan, ada kemungkinan besar Twitter tidak akan bertahan dari penurunan ekonomi yang akan datang," tulis Musk dalam email.

"Kami membutuhkan sekitar setengah dari pendapatan kami untuk berlangganan," imbuhnya.

Penemu Tesla ini juga sempat mengikuti sebuah diskusi livestreaming bersama para pengiklan pada Rabu (9/10) lalu. Pasalnya, kebijakan kontroversial Musk telah menyebabkan banyak merek menghentikan pembelian iklan di Twitter. Termasuk perusahaan pangan asal Amerika Serikat, General Mills.

Uniknya, duo yang memimpin livestreaming, Roth dan Wheeler, kini justru telah meninggalkan perusahaan.

"Jadi, dua orang yang dibawa Elon untuk berbicara dengan pengiklan dalam upaya meyakinkan mereka untuk tetap bermitra dengan perusahaan baru saja berhenti," tweet Rashad Robinson, Ketua Color of Change, seperti dikutip, Senin (14/11).

"Perusahaan yang tetap menggunakan Twitter pada saat ini akan terikat dengan perubahan kebijakan yang berbahaya dan tidak terelakkan ini," lanjutnya.

Drama berlanjut ketika Twitter meluncurkan layanan langganan premium Twitter Blue, Rabu (9/11) lalu. Memungkinkan pengguna untuk membeli tanda centang biru terverifikasi seharga USD8 atau sekitar Rp125 ribu. Namun, layanan ini mengakibatkan pembuatan banyak akun palsu yang meniru merek atau tokoh terkenal.

Sejumlah komunitas hak-hak sipil khawatir, moderasi konten seperti Twitter Blue bisa memicu kemampuan yang tidak terkendali untuk membeli tanda centang biru. Menurutnya, kondisi ini berpotensi menjadi wadah ujaran kebencian dan penyebaran informasi yang salah. Karena itu, komunitas pejuang hak-hak sipil telah meminta lebih banyak merek untuk menghentikan sementara iklan di Twitter.

"Saya belum pernah melihat miliarder meminta USD8 sebanyak ini," kata Presiden National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) Derrick Johnson.

"Jelas, upaya kami meminta perusahaan untuk menghentikan sementara semua iklan di Twitter berhasil. Setiap perusahaan harus bertanggung jawab, dan Twitter tidak terkecuali. Ujaran kebencian dan disinformasi tidak memiliki tempat di mana pun," ujar dia.

Twitter juga tengah menghadapi persoalan karena menerima peringatan dari Komisi Perdagangan Federal (FTC). Perusahaan berbasis California ini diharuskan melakukan tinjauan privasi sebelum membuat perubahan apa pun pada produknya.

Namun dalam pesan Slack dilaporkan The Verge, seorang pengacara di tim privasi perusahaan mengaku mendengar kepala hukum Alex Spiro mengatakan, Elon bersedia mengambil risiko yang sangat besar sehubungan dengan Twitter dan penggunanya.

"Elon menempatkan roket ke luar angkasa, dia tidak takut dengan FTC," kata Spiro seperti didengar pengacara tersebut.

Reporter Magang: Michelle Kurniawan [faz]