Begandring Soerabaia: Soekarno pernah jadi pegawai KA di Surabaya

Komunitas Begandring Soerabaia menyatakan Presiden Republik Indonesia (RI) pertama Soekarno atau Bung Karno pernah menjadi pegawai tidak tetap kereta api (KA) di Stasiun Semut, Kota Surabaya.

"Jadi ini yang tidak banyak diungkap pertama kali Soekarno saat menikah di Surabaya. Tentu Soekarno bekerja susah payah di Stasiun Semut," kata Inisiator Komunitas Begandring Soerabaia Kuncarsono Prasetyo saat memperingati Juni Bulan Bakti Bung Karno atau Hari Kelahiran Soekarno di Surabaya, Ahad.

Menurut Kuncar panggilan akrab Kuncarsono, ada catatan di sebuah buku di Jepang yang menyebut bahwa Bung Karno pernah bekerja sebagai pekerja outsourcing atau alih daya.

Kuncar menjelaskan Soekarno muda bekerja sebagai alih daya di Stasiun Semut karena ingin membantu membantu keuangan mertuanya HOS Tjokroaminoto sekaligus menghidupi biaya sehari-harinya bersama sang istri, Utari.

Baca juga: Moeldoko ajak anak muda Blitar berani berpikir seperti Soekarno

Baca juga: Andreas usulkan disertasi Hasto Kristiyanto dibukukan

Meski demikian, kata dia, Bapak Pemersatu Bangsa ini memiliki daya tarik tersendiri karena lekat dengan Kota Surabaya, khususnya dengan kawasan Peneleh yang menjadi saksi bisu lahirnya Presiden RI pertama.

Dia menjelaskan, kelekatan Presiden RI ke-1 itu dengan Kota Pahlawan, berdasarkan buku berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Selain lahir pada 6 Juni 1901 di Jalan Pandean IV No 40 Surabaya, Bung Karno untuk pertama kalinya menikah dan bekerja di Kota Pahlawan.

Saat mengenyam pendidikan, Soekarno muda tinggal bersama 30 pemuda lainnya di indekos milik HOS Tjokroaminoto yang terletak di Jalan Peneleh Gang VII No. 29 - 31, Surabaya.

"Jadi yang tinggal di situ indekos Tjokroaminoto gratis, tapi syaratnya harus makan di rumah itu. Karena waktu itu Soekarno makannya sedikit, sehari dua bahkan sekali, maka dia tinggal di indekos paling belakang, sekarang menjadi sekolah SD Muhammadiyah," kata Kuncar.

Bukan hanya tinggal di indekos, sebagai seorang yang kaya akan rasa ingin tahu, Soekarno muda sering kali ikut nimbrung bersama pendiri Sarekat Islam (SI) itu, ketika mempraktikkan pidato atau diskusi soal politik. Bahkan, saat itu Soekarno sempat menjadi wartawan tulis media yang dimiliki oleh Tjokoroaminoto.

"Di usianya yang masih 15 tahun, Soekarno itu pembaca ulung, makanya dia kalau menulis itu runtun. Dia bertemu banyak orang yang usianya jauh di atasnya. Yang paling keren, pertama kali Soekarno mengenal Islam itu di rumah HOS Tjokroaminoto," kata dia.

Pada usianya yang menginjak ke 20 tahun, Soekarno remaja baru mengenal yang namanya cinta. Kala itu dia menyatakan cintanya kepada Utari, anak pertama HOS Tjokroaminoto. Saat itu, waktu sore hari menyatakan cintanya di atas Jembatan Peneleh, sembari menghadap ke selatan.*

Baca juga: Buku Induk Mahasiswa ITB catat kota kelahiran Soekarno di Surabaya

Baca juga: Pengamat: Disertasi Hasto tunjukkan politik luar negeri harus ada visi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel