Begini Alur Audit Wajib Vaksin hingga Setelah Diproduksi

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Proses pembuatan dan pengembangan ragam vaksin diawasi dan diaudit secara ketat oleh lembaga terkait. Audit vaksin juga akan dilakukan secara reguler dan terus-menerus oleh pihak berwenang seperti BPOM.

Audit wajib dilakukan dalam masa praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Audit dilakukan untuk menjamin bahwa vaksin aman digunakan.

Hal itu disampaikan I Gusti Ngurah Mahardika, ahli Virologi dan Molekuler Biologi Universitas Udayana, dalam konferensi pers ‘Tata Cara Menemukan Vaksin’ yang digelar Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) secara virtual.

Baca juga: Daftar Provinsi yang Naikkan UMP 2021

“Halalnya vaksin juga penting bagi masyarakat Indonesia. Ini juga harus menjadi perhatian. Jadi nanti setelah vaksin beredar di masyarakat, juga akan tetap diaudit secara terus-menerus. Sehingga vaksin ini benar-benar aman untuk digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya dikutip Selasa 3 November 2020.

Anggota tim pengembangan vaksin Merah Putih ini menjelaskan, tiap metode pembuatan vaksin memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hal yang harus diperhatikan, menurutnya, adalah proses urgensinya.

Jika vaksin dibutuhkan di masa pandemi seperti saat ini, kecepatan pembuatan vaksin dan regulasi sangat dibutuhkan dengan tetap memperhatikan keamanan vaksin.

Dijelaskannya, vaksin yang diinaktivasi seperti yang kini tengah dikembangkan oleh lembaga yang membuat vaksin COVID-19 ‘Sinovac’, adalah pembuatan vaksin paling lazim yang sering digunakan dalam dunia kesehatan.

“Ada juga vaksin berbasis vektor adenovirus yang disuntikkan ke dalam tubuh dan di mana nantinya tubuh kita sendiri yang akan membuat vaksin. Pemberian vaksin seperti ini lebih mudah karena dapat dilakukan lewat oral. Ada juga ragam vaksin sub-unit yang berbasis protein,” kata dia, sembari menjelaskan ada juga pengembangan vaksin dari virus murni, di mana virus biasanya dimatikan, kemudian pembuatan vaksin berbasis gen atau DNA (mRNA).

Menurut I Gusti Ngurah Mahardika, keamanan vaksin salah satu fokus utama dalam pembuatan vaksin, mulai dari uji praklinis. Kemudian uji klinis fase satu yang melibatkan puluhan relawan, uji klinis fase dua yang melibatkan ratusan relawan, dan uji klinis fase tiga yang melibatkan ribuan relawan.

"Vaksin adalah salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengakhiri pandemi ini," tuturnya. (art)