Begini Cara Benar Merawat Anak Positif COVID-19

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kasus COVID-19 pada anak di Indonesia cukup memprihatinkan. Berdasarkan data sebaran kasus COVID-19 di Indonesia hingga 29 Juni 2021, sebanyak 12,6 persen kasus menyerang anak-anak kelompok usia 0-18 tahun, dengan pembagian 2,9 persen kasus menyerang anak usia 0-5 tahun dan 9,7 persen kasus menyerang anak usia 6-18 tahun.

Sebagian besar kasus virus corona yang menyerang anak-anak ini tanpa gejala atau bergejala ringan. Sedangkan, anak-anak yang membutuhkan perawatan karena positif virus corona sebanyak 3,1 persen pada usia 0-5 tahun dan 10,4 persen pada usia 6-18 tahun.

Spesialis anak konsultan, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, SpA (K) dalam program Hidup Sehat tvOne angkat bicara. Rini menjelaskan bahwa gejala COVID-19 pada anak menyerupai orang dewasa seperti demam, sakit menelan, dan kalau yang berat bisa sampai sesak napas.

"Tetapi gejalanya yang saya perhatikan tidak terlalu berat. Dan kalau anak bayi tidak bisa mengeluh, tapi yang orang tua harus tahu ada demam, juga dia rewel. Untuk bayi di bawah 6 bulan kalau rewel kita waspada terutama kalau di rumah ada paparan infeksi COVID-19. Kalau orang tuanya COVID-19 tracing ke anak untuk memastikan apakah anak terinfeksi," kata dia, Selasa 6 Juli 2021.

Berkaitan dengan kasus positif COVID-19 pada anak, dari sejumlah kasus, diketahui ada anak yang dinyatakan positif, namun orang tua mereka tidak. Lantas apa, yang perlu dilakukan oleh orang tua? Rini menjelaskan bahwa penting bagi orang tua tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat di rumah.

"Kalau mengikuti peraturan, orang tua prokes ketat seperti merawat pasien COVID-19 di rumah sakit. Menggunakan hazmat rasanya tidak mungkin jadi paling tidak gunakan masker, face shield, sarung tangan tapi jangan lupa dengan sarung tangan bisa langsung dibuang lalu cuci tangan. Beberapa kasus yang saya temui finally ibunya juga positif, jadi ibu harus meningkatkan imun," ungkap Rini.

Rini juga memberikan siasat yang bisa dilakukan oleh orang tua jika anak jadi sulit makan ketika terpapar COVID-19. Ini penting dilakukan mengingat, makanan yang sehat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan virus COVID-19.

"Anak pasti makan kurang baik frekuensi maupun jumlahnya. Yang bisa disiasati bisa tanyakan mau makan apa, walaupun mau ditanya mau makan apa pasti porsinya harus terpenuhi," kata dia.

Rini menjelaskan, pada prinsipnya porsi dikurangi tapi asupan dalam satu hari harus dipenuhi. Jadi orang tua bisa mengganti dalam porsi kecil namun dalam frekuensi yang sering.

"Jadi kan makan pokok 3 kali sehari dan ada snack bisa jadi bagian makanan pokok," kata Rini.

Lebih lanjut, Rini menjelaskan, alternatif kedua bisa berikan lebih susu karena mudah ditelan dan disukai anak-anak.

"Atau yang cair seperti cream suop bisa. Kalau bisa makan bersama dengan orang tua," kata dia.

Rini juga menjelaskan, tidak ada pantangan makanan tertentu untuk anak-anak saat menjalani isolasi COVID-19.

"Kecuali batuk, kalau makan manis cokelat itu harus dikurangi dulu untuk kurangi frekuensi batuk," kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel