Begini Cara Bikin Anak Disiplin Tapi Tetap Bahagia Saat PJJ

·Bacaan 3 menit

VIVA – Penerapan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) via daring tidak hanya mengurangi efektivitas sistem belajar mengajar yang biasa diterapkan oleh para guru di sekolah, tapi juga menghadirkan persoalan lain yang harus dihadapi oleh para orang tua di rumah.

Anak yang biasanya memiliki banyak aktivitas di sekolah, kali ini hampir seluruh waktunya dihabiskan bersama orang tua. Hal ini di satu sisi, merupakan suatu hal yang positif, karena proses PJJ telah memberikan banyak waktu antara anak dan orang tua untuk saling interaksi dan lebih mengenal anggota keluarga.

Di mana secara tidak langsung, kebijakan PJJ bagi anak dan WFH (Work From Home) bagi orang tua telah mengembalikan fungsi keluarga sebagai pusat segala kegiatan dan tempat utama terjadinya pendidikan bagi anak. Namun, di sisi lain, dalam mendampingi anak belajar secara daring, sebagian orang tua mengalami kesulitan dalam mengarahkan anak untuk belajar.

Orang tua yang tidak terbiasa menerapkan pola pendidikan reguler kepada anaknya akan menghadapi tantangan berat, sehingga dapat berujung pada stres. Sementara dalam proses PJJ seorang anak juga dapat mengalami stres akademik akibat berbagai tuntutan tugas sekolah.

Jika situasi penuh tekanan baik dari orang tua maupun dari anak terus terjadi, maka akan rentan terjadinya stres pengasuhan, yang akhirnya dapat menyebabkan kemerosotan kualitas dan efektivitas perilaku pengasuhan orang tua terhadap anak. Tentunya hal ini juga akan berpengaruh terhadap perkembangan emosi dan perilaku pada anak.

Professional Coach dan Founder & CEO Leadership Resources Indonesia, Eval Wari, menegaskan orang tua harus menjadi sahabat anak di masa pandemi ini. Menurut dia, peran orang tua sebagai sahabat atau mitra anak perlu diwujudkan dalam suatu hubungan dan komunikasi yang mendorong proses kreatif, sehingga dapat memaksimalkan potensi anak dan orang tua secara pribadi.

"Orang tua harus memahami kendala yang dihadapi oleh seorang anak dalam proses PJJ, seperti misalnya sulit fokus, tidak mengerti materi, banyak tugas tidak tuntas, kangen sekolah, dan lain-lain. Untuk itu, orang tua harus hadir sepenuhnya saat berkomunikasi dengan anak, bukan hanya sekadar menanyakan tugas-tugas sekolah, tapi berupaya untuk menangkap dan memahami kata-kata, emosi dan makna tersirat dalam berinteraksi dengan anak," ujarnya dalam Diskusi Seri 4 IPB ’33 Tan96uh: Kebiasaan Anak pada Masa Pandemi, yang digelar virtual, Minggu 4 Juli 2021.

Di samping persoalan yang muncul akibat kebijakan PJJ, Eval mengungkapkan, dampak tidak langsung seperti ketersediaan gawai dan kemudahan akses internet yang mengarah pada penggunaan teknologi yang tidak sehat juga menjadi masalah besar lainnya bagi anak-anak dan orang tua.

"Ditambah dengan ketersediaan waktu luang akibat PJJ dan WFH. Kombinasi tersebut dapat menimbulkan efek negatif dalam pola pengasuhan anak apabila tidak dikontrol dengan baik," tandas dia.

Dadang Darmadi, Pemilik Rumah Baca Faqih yang bergerak di bidang pendidikan dan pengasuhan anak, memberikan beberapa tips membangun pola peran orang tua untuk menjadikan anak disiplin dan bahagia. Apa saja?

"Orang tua perlu akrab dengan anak dan konsisten dengan ucapannya, negosiasikan batasan dengan anak, berikan konsekuensi yang tegas apabila melanggar, berikan pujian atas perbuatan baik anak serta instal nilai-nilai kebaikan dengan cara selalu mendekatkan, membiasakan dan menghadirkan kebaikan dalam proses pendampingan anak oleh orang tua," ungkapnya.

Apabila dikelola dengan baik, menurut Dadang, ketersediaan waktu luang selama PJJ dan WFH sebenarnya bisa dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan potensi dan bakat anak. Orang tua jadi memiliki banyak kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan dan keterampilan anak.

Founder Aya Sophia Islamic School & Penulis Buku Pendidikan, Wakhida Nurhayati, menjelaskan, untuk mengembangkan bakat anak diperlukan pemahaman mengenai mesin kecerdasan anak.

"Banyak metode yang bisa digunakan, salah satunya menggunakan tools dan konsep STIFIn. Founder STIFIn adalah salah satu alumni terbaik IPB, yakni Farid Poniman, seorang peneliti di bidang pengembangan diri. Beliau membagi otak manusia menjadi 5 bagian yang menghasilkan 5 mesin kecerdasan, yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting," pungkas dia.

"Mengenali bakat anak melalui pendekatan ini dapat membantu orang tua untuk mengoptimalkan metode pembelajaran yang cocok bagi anak, sehingga anak merasa nyaman dan termotivasi untuk menggali seluruh potensi yang ada pada dirinya menjadi insan sukses mulia," tutup Wakhida Nurhayati.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel