Begini Cara Moeldoko Cari Solusi Turunkan Harga Daging Sapi

Dusep Malik, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mempertemukan Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) dengan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo). Pertemuan itu terkait kenaikan harga daging sapi di Jabodetabek.

Pemerintah, kata Moeldoko, mencari solusi adanya isu kenaikan harga daging sapi, hingga kesiapan menjelang hari raya Idul Fitri mendatang.

“Melalui pertemuan ini, saya harap ada solusi agar harga daging sapi tidak terus naik dan jadi masalah baru dan beban masyarakat di tengah penanganan COVID-19 dan berbagai bencana yang ada,” kata Moeldoko di Bina Graha, Jakarta, Jumat 22 Januari 2021.

Terkait pertemuan juga dihadiri perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Bulog hingga PT Berdikari.

Moeldoko memaparkan, para pihak yang hadir menyusun kembali perhitungan stok daging. Melalui langkah tersebut setiap pihak diminta memetakan persiapan untuk menetapkan harga daging dan memutuskan kebijakan impor daging maupun impor sapi dari beberapa negara.

"Dengan begitu, jangan sampai lagi konsumen merasa harga masih tinggi. Gapuspindo sebagai pihak hulu sudah menurunkan harga, jangan sampai APDI tetap menaikkan harga ke konsumen,” kata Moeldoko.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Syailendra, menyatakan sejak aksi mogok pedagang daging di beberapa wilayah, pihaknya langsung turun tangan dengan memfasilitasi pertemuan antara Gapuspindo dan APDI.

Sedangkan, Ketua APDI, Asnawi, menyambut positif jalan tengah yang telah disepakati bersama Gapuspindo. Bahkan, kata Asnawi, sejak terjadinya kesepakatan itu, APDI telah meminta seluruh pedagang daging kembali melanjutkan kegiatannya dan menghentikan aksi mogok.

“Sekarang, para pedagang sudah bisa menjual daging dengan harga terendah Rp105.000 per kilo gram dari sebelumnya yang bisa di atas Rp120.000 per kilo gram,” tutur Asnawi.

Ketua Dewan Gapuspind, Didiek Purwanto, menjelaskan bahwa pihaknya memang telah menaikkan harga daging seiring dengan naiknya harga sapi impor dari Australia.

Didiek menjelaskan, sejak harga sapi impor Australia menyentuh level terendah US$2,5 per kilo gram hidup, terjadi peningkatan harga hingga US$3,8 per kilo gram atau setara Rp55.460 per kilo gram pada akhir Desember 2020.

“Sehingga, sebagian anggota kami sudah tidak bisa lagi melakukan impor dari Australia dan membuat adanya lonjakan harga setelah pada 2019-2020 tidak ada lonjakan harga. Kami pun berharap, ke depannya ada alternatif negara yang bisa impor sapi di tengah kondisi impor dari Australia,” kata Didiek.