Begini Cara Vaksin COVID-19 Didistribusikan ke Daerah

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah menjamin kesiapan infrastruktur distribusi vaksin ke daerah bila vaksin COVID-19 telah tersedia. Indonesia sendiri telah memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam hal manajemen distribusi vaksin.

Lantas bagaimana alur distribusi vaksin dikirim ke daerah hingga siap disuntikkan kepada masyarakat di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya?

Pakar imunisasi, dr. Elizabeth Jane Soepardi, menjelaskan proses distribusi vaksin memang cukup panjang, namun tidak sulit dilakukan di Indonesia. Proses distribusi vaksin diawali dengan kesiapan produk vaksin yang akan digawangi PT Bio Farma.

Perusahaan pelat merah ini nantinya juga yang bertugas memproduksi vaksin COVID-19 secara bertahap- jika vaksin sudah mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Baca juga: 2020 Tinggal 1 Bulan, Jokowi Minta Jajarannya Genjot Belanja APBN

"Dari manapun vaksinnya, nanti akan melalui Bio Farma. Mereka sudah memiliki armadanya untuk penerima vaksin dan mendistribusikannya. Jadi kita sudah punya depo-depo vaksin," kata Elizabeth dalam keterangan pers bersama Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, dr. Reisa Broto Asmoro di Kantor Presiden, dikutip Selasa, 1 Desember 2020.

Selanjutnya, Bio Farma bertugas mendistribusikan produk vaksin dengan armada khusus yang mampu menjaga suhu ideal bagi vaksin dengan temperatur 2-8 derajat celcius. Seluruh provinsi di Indonesia juga dilaporkan telah memiliki jejaring cold chain yang memadai. Cold chain atau rantai dingin ini termasuk ketersediaan fasilitas lemari es khusus untuk penyimpanan vaksin.

"Lemari es yang besar sekali yang bisa menyimpan vaksin untuk 3-6 bulan secara bertahap dikirim ke level kabupaten, dari kabupaten terus turun ke bawah, ke puskesmas dan ke rumah sakit," kata Elizabeth.

Seperti diketahui, vaksin merupakan produk biologis yang mudah rusak sehingga harus disimpan pada suhu tertentu. Karenanya, dalam mendistribusikan dan menyimpannya pun butuh fasilitas khusus. Termasuk saat mengantar vaksin dari puskesmas ke posyandu yang menggunakan vaccine carrier.

Vaccine carrier adalah alat untuk mengirim/membawa vaksin dari puskesmas ke posyandu atau tempat pelayanan imunisasi lainnya yang dapat mempertahankan suhu 2-8 derajat celcius.

"Vaksin harus disimpan dalam suhu tertentu antara 2-8 derajat celcius. Jadi pada waktu vaksin keluar dari lemari es, harus cepat masuk ke dalam tempat sementara, itu ada seperti semacam boks. Lemari es vaksin tidak sama dengan lemari es makanan biasa," jelas Elizabeth.

Setelah diantar ke fasilitas kesehatan di daerah, langkah selanjutnya adalah menyiapkan seluruh kesiapan teknis vaksinasi untuk masyarakat termasuk menentukan waktu pemberian vaksin.

"Tempat di mana, waktu kapan, siapa yang bekerja dan siapa yang datang. Itu yang ideal, jauh-jauh dari sebelumnya sudah mengerti betul sehingga pelayanannya bisa cepat. Maksimal satu orang 10 menit, dari daftar, pelayanan, dicatat, sampai keluar. Itu sudah dihitung nanti," ungkap Elizabeth. (ase)